Sarjana tanpa Skripsi: Kemajuan atau Kemunduran
Meskipun demikian, kritik terhadap kebijakan ini juga tidak bisa diabaikan. Skripsi memiliki nilai akademik yang penting karena mengajarkan mahasiswa untuk melakukan penelitian secara mandiri. Kemampuan mencari informasi, menganalisis data, dan menyusun argumen berdasarkan fakta merupakan keterampilan yang sangat berguna, baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Jika skripsi dihapus tanpa adanya pengganti yang setara, mahasiswa berpotensi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Kekhawatiran lainnya adalah menurunnya kredibilitas gelar sarjana. Masyarakat selama ini memandang gelar sarjana sebagai bukti bahwa seseorang telah melalui proses pendidikan yang cukup berat dan memiliki kemampuan akademik tertentu. Apabila syarat kelulusan dianggap semakin mudah, sebagian orang mungkin akan mempertanyakan kualitas lulusan yang dihasilkan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan terhadap institusi pendidikan tinggi.
Selain itu, skripsi juga berperan dalam menjaga budaya penelitian di lingkungan kampus. Meskipun tidak semua skripsi menghasilkan temuan yang besar, penelitian mahasiswa tetap memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Jika semakin sedikit mahasiswa yang melakukan penelitian, dikhawatirkan budaya akademik akan semakin melemah. Padahal, salah satu fungsi utama perguruan tinggi adalah menghasilkan pengetahuan baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut penulis, perdebatan mengenai sarjana tanpa skripsi seharusnya tidak hanya berfokus pada ada atau tidaknya skripsi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana perguruan tinggi memastikan bahwa mahasiswa tetap memperoleh kompetensi yang dibutuhkan sebelum lulus. Jika skripsi diganti dengan proyek,atau magang.
Sumber:
https://cbnfoundation.id/kuliah-tanpa-skripsi-mitos-atau-fakta/
How Important Is a College Degree? Job Market Insights You Should Know About
