Oleh: Iyek Aghnia

Matahari lah di atas kepala saat Matkembel dan kawan-kawannya kecaleb di jalanan kampung yang rusak. Motor mereka dak pacak ngeliwat jalan yang penuh lubang. Motor yang urang tuh pakai harus tebatuk-batuk ngikel, hingga akhirnya kecaleb di jalan yang lah penuh ken lubang besar-besar. Sudahlah tuh, lubangnya dalam pulak.

Beberapa urang kampung kami yang tengah ada di sekitar jalan yang rusak itu cuma melungo ngelihat Matkembel dan kawan-kawannya berusaha setengah mati nek keluar dari jalanan itu, yang lubangnya nagem-nagem besar dan dalam.

Dak hikuk aben urang kampung kami yang berusaha nek nulung kaban tuh. Bahkan, ada urang kampung kami yang lencun ninggal lokasi tempat Matkembel dan kawan-kawannya kecaleb dalam kubangan lumpur jalanan.

“Nih bukti hebatnya prestasi pemimpin kampung kita. Kita dukung terus sampai kiamat!” sorak seorang warga kampung kami sambil lencun ninggal lokasi jalan yang hancur lilot macam tapai tuh.

Nengar cakap urang kampung, Matkembel tediam. Berkacep. Dak ngejawab aben. Keringat ngucur deras. Bajunya basah ken keringat yang terus ngalir. Maklumlah, hari tiko panas bedesep. Matahari tengah nuan garangnya.

“Pokoknya kami ngedukung kepemimpinan pemimpin kampung kita yang luar biasa nih. Pembangunannya untuk kebermajuan kampung kita. Dak nyusah urang kampung kita,” saut urang kampung kami lainnya sambil ketawa ngerigel.

Matkembel dan kawan-kawannya dak bagus mukanya nengar cakap warga kampung kami. Ada rasa malu yang mengalir dalam nuraninya sebagai manusia. Ada rasa sesal dalam nurani sebagai manusia.

Lah berapa hari ini, Matkembel dan kawan-kawannya dak kelihatan di ruang publik kampung kami. Biasanya, saat matahari lah mulai naik kaki langit, Matkembel dan kelompoknya lah nongkrong di warung kupi. Lah nuan kisahnya.

Dak heran kalau urang kampung kami bertanyak ken urang sekaban landuk tuh. Sejuta tanyak melanda urang kampung kami. Biasanya, Matkembel dan kelompoknya selalu hadir di ruang publik kampung kami, muik kisah uang bagus-bagus untuk ngilen Pak Kepala Kampung kami.

“Aneh. Dak de aben ngelihat batang hidung Matkembel dan kawan-kawannya. Kemana uk kaban tuh?” tanya seorang warga kampung kami saat urang tuh tengah kumpul di pos ronda kampung kami. Cahaya rembulan menerangi semesta.

“Motor kaban tuh agek kecaleb di jalan rusak tuh. Lum pacak keluar,” ungkap seorang warga kampung kami yang memakai kaos bergambar calon Bupati.

“Yang bener?” tanya seorang warga kampung kami yang memakai kopiah dengan penuh keheranan.

“Auk. Tadi sore, ku ningok pegawai desa memandu uto derek dari kecamatan ke hane,” jelas seorang warga kampung kami.

“Kasian,” sahut seorang warga kampung kami lainnya.

Seketika, suara ketawa ngerigel terdengar dari urang kampung kami, meramaikan malam yang terang benderang. Nek rasanya urang kampung kami segera bertemu ken Matkembel dan kawan-kawannya untuk nanyak macam mana pembangunan di zaman Pemimpin Kampung kami yang selalu kaban tuh ilen dan kisah selama ini.

Habang, 2026

Catatan:

Pengembel (bahasa Toboali): Melakukan sesuatu secara keroyokan, bersama-sama.

Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, seorang penulis yang tinggal di Toboali. Kakek dari dua orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna dan Muhammad Arkhana Nafiandy.