Pendosa yang Merindukan Tuhan
Di lorong malam yang gelap dan pengap,
Aku berjalan tanpa arah.
kaki penuh luka,
berjalan dengan membawa dosa.
Dosaku menumpuk bagai gunung hitam,
Tubuhku dipenuhi dosa yang sangat amat menyiksa,
membuat napas sesak dan pilu.
Aku pernah menari dengan bayang-bayang dosa,
Serta rasa penyesalan menghantuiku.
Mabuk kenikmatan yang palsu dan rapuh,
Membuatku terlena akan dunia.
Tawa dunia kugenggam erat di tangan,
Sementara hatiku diam-diam menangis rindu.
Ya Tuhan,
Aku pendosa yang paling hina di antara hina,
Aku sudah lalai dan melupakanmu.
Namun rindu ini tak pernah padam,
Seperti anak hilang yang kehausan di padang pasir.
Aku mencari-Mu di setiap hembus angin malam,
Berharap agar bisa kembali kepadamu.
Ampuni aku yang sering lupa,
Yang sering jatuh di lubang yang sama.
Bersihkan jiwaku yang kotor ini,
Dan kuatkanlah imanku.
Biarkan aku pulang ke pelukan rahmat-Mu.
Meski dunia masih memanggil dengan suaranya yang manis,
Hatiku kini hanya mendengar satu nama:
Engkau.
Engkau adalah maha pengampun.
Engkau yang tak pernah lelah menanti anak yang tersesat.
Aku datang, Tuhan.
Dengan air mata dan hati yang remuk.
Terimalah pendosa ini,
Yang lalai kepadamu.
Sebab hanya di dekat-Mu aku menemukan arti hidup yang sebenarnya.
Di sini aku berdiri,
Dengan kaki yang terobati dan ber arah,
Dengan tangan terangkat dan jiwa yang gemetar.
Pendosa yang merindukan Tuhan—
Kembali pulang.

