Bagaimana seorang pekerja urban bisa menghindari penyusutan memori akibat stres kronis, jika sistem kerja modern memaksa mereka menganut hustle culture dan terjaga 18 jam sehari demi bertahan hidup? Otak yang sehat tidak bisa lahir dari tubuh yang kelelahan secara struktural dan perut yang kekurangan nutrisi. Menjaga otak tidak boleh menjadi hak istimewa (privilege) kelompok borjuis; ia adalah hak dasar setiap manusia.

Stigma Purba dan Pembiaran yang Dimaklumi

Ironi ini tidak berhenti di urusan isi dompet, melainkan berakar hingga ke stigma sosial yang purba. Di masyarakat kita, penyakit yang menyerang otak acap kali dipandang dengan lensa yang keliru. Penderita epilepsi masih kerap menghadapi diskriminasi di dunia kerja karena dianggap “kerasukan” atau membawa sial.
Di sisi lain, penurunan kognitif drastis pada lansia sering kali dimaklumi secara malas dengan kalimat, “Wajar, namanya juga sudah tua.” Padahal, bisa jadi itu adalah gejala awal Alzheimer yang butuh intervensi medis, bukan pembiaran. Kita hidup di lingkungan yang menuntut otak kita bekerja super cepat di era digital, namun langsung menghakimi atau mengabaikan ketika organ super penting ini mulai mengalami kerusakan.

Menggugat Kebijakan Publik yang Mandul di Hulu

Pada akhirnya, Hari Otak Sedunia harus menjadi momentum untuk menggugat kebijakan publik yang mandul. Selama ini, anggaran kesehatan kita habis untuk membiayai hilir—mengobati stroke saat pembuluh darah sudah pecah, atau merehabilitasi dampak kerusakan saraf yang sudah telanjur fatal. Pemerintah abai membenahi hulu.
Investasi pada kesehatan otak seharusnya dimulai sejak janin di dalam kandungan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, pengentasan gizi buruk (stunting), hingga pengetatan regulasi polusi udara—yang secara ilmiah terbukti merusak perkembangan saraf anak-anak kita. Kesehatan otak bukan sekadar urusan medis individu; ia adalah cerminan dari keadilan sosial suatu bangsa.

Selama akses pengobatan saraf masih timpang, selama makanan bernutrisi masih menjadi barang mewah, dan selama kebijakan preventif belum menyentuh akar rumput, maka tema “Akses untuk Semua” hanya akan berakhir sebagai slogan di atas kertas. Kita tidak butuh lebih banyak tips kesehatan yang klise. Kita butuh komitmen politik dan struktural untuk memastikan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk merawat organ paling berharga di tubuh mereka. Karena dalam urusan kesehatan saraf, penundaan akses adalah bentuk penolakan hak secara halus.