“Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu, dan lidahmu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Belajar dari Kelembutan Para Nabi

Melalui “jihad lidah” dan tulisan inilah Islam mengetuk hati manusia secara elegan. Sejarah mencatat bahwa perubahan-perubahan besar Islam di dunia sering kali lahir dari jihad kelembutan. Ingatkah kita ketika Allah SWT mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun? Allah tidak memerintahkan mereka untuk langsung menghancurkan istananya, melainkan memerintahkan mereka di dalam Al-Qur’an:

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44).

Jika kepada seorang diktator terkejam yang mengaku sebagai tuhan saja Allah memerintahkan kelembutan, bagaimana mungkin kita menggunakan kekerasan dan caci maki kepada sesama manusia di sekitar kita?

Jihad di Era Modern

Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang sanggup berteriak lantang, namun kita sangat krisis manusia yang mampu menyentuh hati dengan ketulusan. Berjihad di era modern adalah tentang bagaimana kita menghadirkan Islam yang menenteramkan.

Menjadi pribadi yang jujur di tempat kerja demi menafkahi keluarga adalah jihad. Belajar dengan tekun demi kemaslahatan umat adalah jihad. Merawat bumi dan menjaga lisan dari menyakiti orang lain juga adalah jihad.
Perang fisik di dalam Islam hanyalah pintu darurat yang sangat ketat aturannya, yang hanya dibuka ketika diri dan tanah air ditindas. Namun di luar kondisi darurat itu, jalan utama Islam adalah kedamaian. Allah SWT berfirman mengingatkan karakter kelembutan Rasulullah yang berhasil menyatukan hati manusia: