Perjalanan panjang dari Cirebon akhirnya berakhir pada Rabu (29/7/2026) malam sekitar pukul 18.20 Wib. Ambulans yang membawa jenazah Yuliva tiba di Tempilang dengan pengawalan ketat dari personel Polsek Tempilang.

Peti jenazah langsung digotong menuju Masjid Jami’ untuk disalatkan. Isak tangis keluarga tak terbendung saat doa-doa mulai dilantunkan.

Berdasarkan penuturan keluarga, Yuliva sebenarnya belum pulih benar dari sakitnya. Ia bahkan sempat menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di Pangkalpinang. Namun, tuntutan pekerjaan yang mendesak di Cirebon membuatnya bersikeras untuk kembali bertolak ke Jawa Barat.

Siapa sangka, keberangkatan tersebut menjadi perjalanan terakhirnya. Mengenai penyebab pasti kematian, pihak keluarga mengaku sudah menerima takdir ini dengan lapang dada. Mereka memilih fokus pada proses pemakaman dan menyerahkan sisa penyelidikan kepada kepolisian setempat.

“Kami dari pihak keluarga sudah ikhlas dan mempercayakan penuh penanganan serta hasil penyelidikan resmi kepada pihak kepolisian di sana (Polsek Kesambi),” ungkap Hendri, perwakilan keluarga almarhumah, dengan nada tegar.

Tepat pukul 19.45 Wib, prosesi pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tara selesai dilaksanakan. Ratusan pelayat, mulai dari tetangga, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat, melepas kepergian Yuliva.

Hadir di garda depan hingga tanah kubur mengering adalah Kapolsek Tempilang beserta jajarannya, Kepala Desa Air Lintang, Bhabinkamtibmas, Kanit Intel, dan personel Unit Reskrim.

Kehadiran korps baju cokelat ini tidak sekadar formalitas, melainkan menjadi pilar penguat bagi keluarga yang sedang rapuh. Melalui aksi nyata bertajuk “Sambang Duka” ini, Polsek Tempilang berharap bisa meringankan beban psikologis keluarga yang ditinggalkan. Di tengah duka yang mendalam, malam itu menjadi bukti nyata terajutnya hubungan yang harmonis dan humanis antara Polri dan masyarakat Bangka Barat.