Hingga Juli 2026, Dinkes Bangka Selatan Catat 7 Kasus HIV Berasal dari Kelompok LGBTQ
Upaya penjangkauan dan deteksi dini pada kelompok LGBT diakui dr. Agus masih menemui kendala di lapangan. Kelompok masyarakat ini cenderung tertutup, sehingga petugas kesehatan harus menerapkan pendekatan persuasif agar edukasi serta screening dapat diterima dengan baik.
Guna melacak penularan lebih luas, Dinkes memanfaatkan pasien yang sudah terdeteksi untuk membantu mengajak rekan-rekan di komunitasnya agar mau memeriksakan diri.
“Permasalahan utama di lapangan memang karena kelompok LGBT ini cenderung tertutup. Pendekatan terus kami lakukan, termasuk meminta pasien yang terdeteksi untuk menyarankan kelompoknya melakukan screening,” ungkapnya.
Secara akumulatif, total warga yang terdaftar mengidap HIV di Bangka Selatan hingga Juli 2026 mencapai 93 orang. dr. Agus menegaskan bahwa seluruh pasien yang terdata tetap menerima pengobatan rutin dan pendampingan medis sesuai standar operasional yang berlaku.
Selain fokus pada penanganan kasus pada kelompok LGBT, tindakan preventif juga diperluas ke sektor lain. Petugas kesehatan rutin menggelar pemeriksaan berkala dua kali setahun di kawasan lokalisasi.
Di sisi lain, edukasi sejak dini juga digencarkan ke sekolah-sekolah dengan memanfaatkan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) untuk membentengi para pelajar dari perilaku berisiko penularan HIV.

