Persahabatan kita bukan janji di ujung bibir,
tapi bekas luka yang sama-sama kita ukir.
Lukamu, lukaku juga.
Bahagiamu, bagai nafas ku yang kedua.

Biar waktu luruh jadi butiran debu,
Biar jarak menjelma baru,
Simpul ini takkan ku lepas,
Sebab namamu sudah terukir di sebuah aksara yang amerta.

Jika semesta merenggut salah satu,
yang pulang bukan sendiri,
tapi setengah jiwa
yang dulu bersama setiap hari.