Penulis: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom — Guru Informatika MTsS Plus Bahrul Ulum

Di bulan Agustus yang seharusnya penuh warna merah-putih, penuh semangat kemerdekaan dan sukacita menyambut hari lahir bangsa, pemandangan di sejumlah sudut negeri justru memancarkan suasana yang berbeda. Di Sungailiat, seperti di banyak daerah lain, arahan pemerintah agar setiap rumah mengibarkan bendera merah-putih tampaknya tak sepenuhnya berbuah kepatuhan.

Surat telah diedarkan, himbauan telah disampaikan, namun tiang-tiang bendera di beberapa kawasan tetap kosong. Bukan karena lupa, bukan pula karena malas. Ada alasan yang lebih dalam, yang menjadikan bendera itu bukan lagi lambang kemerdekaan yang membanggakan, melainkan cermin kekecewaan yang tak terucap dari hati rakyat.

Merah-putih seharusnya berdiri gagah sebagai bukti kebebasan yang diraih dengan tetesan darah dan air mata para pendahulu. Setiap helai kainnya menyimpan janji: kemerdekaan adalah jalan menuju keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, janji itu kini terasa makin menjauh dari kenyataan yang dirasakan warga sehari-hari. Ketika pemerintah menetapkan aturan pengibaran bendera di bulan Agustus, sebagian masyarakat justru merasa terpanggil untuk tidak menaatinya bukan sebagai pelanggaran semata, melainkan bentuk protes sunyi, ungkapan bahwa harapan yang dijunjung tinggi perlahan mulai merosot ke tanah.

Saat menyusuri jalan-jalan di Sungailiat, terlihat jelas ketimpangan itu. Di pusat kota, bendera masih berkibar tertib, seirama harapan yang masih tersisa. Namun, melangkah agak jauh ke pelosok-pelosok permukiman, banyak rumah yang tetap apa adanya. Tak ada kain merah-putih yang melambai di depan pintu.

Ditanya alasannya, warga tak serta-merta melontarkan amarah. Mereka justru bercerita dengan nada berat: program pemerintah yang datang bergantian, namun terasa makin jauh dari kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang terlambat, rencana pembangunan yang tak kunjung terasa dampaknya, janji-janji manis yang menguap begitu saja setelah hari pemilihan berlalu. Semua itu menumpuk menjadi satu rasa: kecewa.