Oleh: Eqi Fitri Marehan — Guru MTsS Plus Bahrul Ulum

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang kita rayakan hari ini seharusnya bukan sekadar seremoni seremonial atau upacara rutin yang dilaksanakan di lapangan sekolah dan kantor pemerintahan. Momen ini seyogyanya menjadi cermin bagi kita semua untuk menengok kembali, mengevaluasi, dan menilai sejauh mana nilai-nilai luhur bangsa ini telah benar-benar hidup di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.

Sebagai seorang pendidik yang setiap hari berinteraksi dengan peserta didik, saya menyampaikan satu hal yang menjadi keprihatinan bersama: Pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah saat ini dinilai masih terjebak dalam ruang lingkup teoritis semata, jauh dari apa yang seharusnya menjadi tujuan utamanya, yaitu pembentukan karakter dan jati diri bangsa.

Baca Juga  Class Meeting 2022, Sekolah Dasar Negeri 36 Gelar Lomba Menghafal Pancasila Hingga Olahraga Ceria

Ada kritik tajam yang perlu kita dengar dengan hati terbuka. Selama ini, pengajaran Pancasila sering kali dipersepsikan oleh siswa hanya sebagai mata pelajaran biasa yang menuntut hafalan demi mendapatkan angka yang baik di atas kertas ujian dan rapor sekolah. Siswa dilatih untuk hafal bunyi setiap sila, menghafal butir-butir pengamalan, serta mampu menjawab berbagai pertanyaan soal ujian dengan tepat.

Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah pengetahuan yang tertanam di dalam ingatan itu telah meresap ke dalam sanubari dan terwujud dalam perilaku keseharian mereka? Sayangnya, fakta yang terjadi di lapangan sering kali menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antara apa yang dipelajari di dalam kelas dengan apa yang dipraktikkan di luar kelas.

Baca Juga  Kemajuan Teknologi Informatika: Sebuah Pedang Bermata Dua

Masalah utamanya terletak pada kurangnya ruang dan kesempatan bagi para siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut secara nyata. Pendidikan Pancasila tidak boleh dan tidak bisa hanya disampaikan melalui metode doktrin atau ceramah satu arah yang membosankan.

Nilai seperti toleransi, misalnya, tidak akan dapat dipahami maknanya yang sedalam-dalamnya hanya dengan membaca buku teks atau mendengarkan penjelasan guru di depan papan tulis. Siswa hanya akan benar-benar mengerti apa itu toleransi ketika mereka ditempatkan dalam lingkungan yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan teman yang berbeda latar belakang, pendapat, atau keyakinan, lalu belajar untuk saling menghargai dan bekerja sama meskipun ada perbedaan tersebut. Demikian pula dengan nilai keadilan, kebersamaan, dan persatuan; semuanya adalah konsep yang hidup dan baru akan memiliki arti jika dilaksanakan dalam tindakan nyata.

Baca Juga  Pj Gubernur Suganda Tekankan Pentingnya Pengamalan Nilai Luhur Pancasila untuk Sukseskan Pemilu 2024