Lima Puluh Tahun PT Timah: Antara Neraca dan Nurani
Seberapa besar masyarakat di daerah penghasil benar-benar menikmati manfaat dari kekayaan alamnya sendiri?
Pertanyaan ini bukanlah hal baru. Pada awal era otonomi daerah sekitar tahun 2000-an, pemerintah daerah di Bangka Belitung pernah memperjuangkan agar daerah memperoleh kesempatan memiliki sebagian saham PT Timah. Aspirasi lain adalah peningkatan porsi penerimaan daerah melalui mekanisme bagi hasil maupun royalti. Eko Maulana Ali yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Bangka menyuarakan hal-hal tersebut. Pt Timah waktu itu sampai harus menghadirkan seorang guru besar ITB kelahiran Bangka yaitu Prof MT Zen guna menjelaskan dan meredakan permintaan tersebut.
Harapannya orang di Bangka Belitung sebenarnya sederhana. Kalau tanahnya ditambang di sini, kalau lingkungan terdampak di sini, kalau masyarakat hidup berdampingan dengan aktivitas tambang setiap hari, maka sewajarnya manfaat ekonominya juga lebih besar kembali ke daerah.
Namun perjuangan itu tidak pernah benar-benar membuahkan hasil sesuai harapan. Daerah seperti berbicara kepada tembok. Sementara pusat merasa telah menjalankan seluruh ketentuan sesuai peraturan perundang-undangan. Akhirnya persoalan itu mengendap menjadi semacam luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Kini bangsa ini kembali ramai membicarakan hilirisasi timah. Istilahnya terdengar sangat menjanjikan. Nilai tambah, industri lanjutan, ekosistem manufaktur, lapangan kerja baru, ekspor produk bernilai tinggi. Semua terdengar indah.
Memang, berbagai kajian menunjukkan bahwa Indonesia selama puluhan tahun lebih banyak mengekspor logam timah dibanding produk hilir dengan nilai tambah tinggi. Pemerintah kemudian mendorong penguatan industri hilir agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada tahap penambangan semata.
Namun masyarakat Bangka Belitung memiliki hak untuk bertanya. Apakah kali ini benar-benar akan terjadi? Ataukah hilirisasi hanya akan menjadi istilah yang terus dipidatokan setiap pergantian pejabat?
Sejarah mengajarkan bahwa tidak sedikit gagasan besar yang akhirnya berhenti sebagai maket atau bentuk miniatur belaka. Masih banyak orang Bangka Belitung yang mengingat rencana pembangunan Menara Timah sebagai ikon baru daerah.
Konsepnya menarik. Perancangnya bukan orang sembarangan, melainkan Nyoman Nuarta, seniman yang melahirkan berbagai karya monumental Indonesia. Miniaturnya pernah dipamerkan. Harapannya begitu besar. Tetapi hingga hari ini masyarakat hanya mewarisi cerita.
Demikian pula kisah pembangunan fasilitas pengolahan timah bernilai tambah yang pada akhirnya justru berkembang di luar Bangka Belitung. Masyarakat tentu berhak bertanya mengapa. Karena setiap industri hilir yang dibangun di luar daerah penghasil berarti ada lapangan kerja yang berpindah. Ada investasi yang berpindah. Ada efek berganda ekonomi yang ikut berpindah.
Di tengah berbagai dinamika tersebut, PT Timah sesungguhnya tetap memiliki modal sosial yang sangat besar. Perusahaan ini bukan sekadar entitas bisnis. Ia telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat. Anak-anak tumbuh di kompleks perumahan karyawan. Sekolah-sekolah dibangun. Rumah sakit melayani masyarakat. Lapangan olahraga menjadi tempat lahirnya atlet-atlet daerah. Berbagai kegiatan budaya dan sosial memperoleh dukungan perusahaan.
Harapan Baru?
Semua itu membentuk hubungan emosional yang tidak mudah dihapus oleh perubahan struktur organisasi. Justru karena hubungan emosional itulah masyarakat Bangka Belitung selalu berharap lebih kepada PT Timah dibanding perusahaan tambang lainnya.
Harapan itu bukan semata-mata meminta bantuan. Yang diinginkan masyarakat adalah rasa memiliki. Bahwa perusahaan yang lahir dari bumi Bangka Belitung juga memandang masyarakat Bangka Belitung sebagai mitra utama pembangunan.
Lima puluh tahun adalah usia untuk melakukan refleksi. Refleksi bahwa keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari laba bersih atau harga saham. Keberhasilan juga harus diukur dari kualitas lingkungan yang ditinggalkan.
Dari kesejahteraan masyarakat pesisir, dari produktivitas lahan bekas tambang yang berhasil dipulihkan, dari jumlah anak-anak daerah yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik, dari tumbuhnya industri hilir di tanah sendiri, dari hadirnya inovasi yang membuat Bangka Belitung tidak selamanya bergantung pada menggali isi perut bumi.
Karena sesungguhnya sumber daya alam akan habis. Tetapi pengetahuan, teknologi, dan manusia berkualitas akan tetap menjadi modal pembangunan. Selamat ulang tahun ke-50 PT Timah.
Semoga lima puluh tahun berikutnya menjadi babak baru yang lebih berpihak kepada masa depan. Semoga para nahkoda yang silih berganti memahami bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tambang tidak hanya tercermin pada laporan tahunan yang disampaikan kepada pemegang saham.
Keberhasilan itu juga tercermin pada wajah nelayan yang tetap dapat melaut dengan tenang. Pada petani kecil yang masih menemukan tanah yang subur untuk ditanami. Pada anak-anak Bangka Belitung yang memperoleh kesempatan bekerja di industri bernilai tambah yang berdiri di kampung halamannya sendiri. Dan pada masyarakat yang tetap merasa bahwa PT Timah adalah milik mereka, bukan sekadar sebuah nama besar yang seluruh keputusan pentingnya harus menempuh perjalanan panjang menuju gedung-gedung tinggi di sekitar Monas. Sebab pada akhirnya, kekayaan alam tidak pernah hanya berbicara tentang berapa ton bijih yang berhasil diangkat dari perut bumi. Ia selalu berbicara tentang untuk siapa seluruh kekayaan itu dipergunakan.
Di situlah sejarah akan mencatat, apakah PT Timah sekadar menjadi perusahaan yang menambang timah, atau benar-benar menjadi perusahaan yang ikut membangun peradaban Bangka Belitung. Perusahaan yang menyeimbangkan antara neraca dan Nurani. Semoga. Salam takzim.

