Oleh: Heri.S – Penulis Tetap Timelines.id

Kami lahir dengan garam
Lekat di kulit dan angin di kepala.
Sejak kecil kami sudah tahu,
bahwa untuk mendapatkan apa pun.
Kami harus menyeberang.
Ke sekolah harus naik pompong.
Ke puskesmas harus menunggu cuaca.
Ke pasar harus menghitung BBM dan pasang surut.

Di tempat kami.
Jarak tidak diukur dengan garis lurus.
Jarak diukur dengan keberanian.
Karena laut tidak pernah berjanji aman.
Ia hanya berjanji jujur.
Pola pikir kepulauan.
Adalah pola pikir yang hidup di antara.
Antara darat dan air.
Antara ada dan tiada.
Antara hari ini.

Entah kapan kapal berikutnya datang.
Karena itu kami belajar menabung kesabaran.
Seperti menabung beras.
Kami belajar berbagi karena tahu.
Jika satu rumah kekurangan.
Badai berikutnya bisa menimpa rumah kami juga.

Orang darat membangun tembok agar merasa utuh.
Kami membangun jaring.
Jaring pertemanan.
Jaring tolong-menolong.
Jaring cerita yang dilempar dari pulau ke pulau.
Di sini tidak ada istilah “urusan saya”.
Yang ada hanya “urusan kita”.
Karena jika satu perahu tenggelam.
Ombaknya akan sampai juga ke bibir pantai kita.

Kami tidak memusuhi waktu.
Kami berdamai dengannya.
Ada musim yang tidak bisa dipaksa.
Ada ikan yang tidak bisa dipanggil.
Ada angin yang tidak bisa disuruh belok.
Maka kami menunggu.
Bukan karena malas.
Tapi karena tahu.
Memaksa alam adalah cara tercepat untuk kalah.

Kami juga anak rantau sejak dalam pikiran.
Kepala kami selalu menghadap ke “seberang”.
Ke tempat obat ada. Ke tempat kuliah ada.
Ke tempat harga lebih baik.
Tapi kaki kami tetap menjejak pasir pulau ini.
Karena pulau bukan penjara.
Pulau adalah rumah yang apitnya laut.