Luka kami sederhana.
Kami sering diukur dengan penggaris yang salah.
Anggaran disamakan.
Standar diseragamkan.
Kebijakan dicetak untuk daratan.
Lalu ditempel ke pulau.
Padahal membangun di atas air berbeda di daratan.
Tapi kami tidak pernah minta dikasihani.
Kami hanya minta dilihat secara utuh.
Dihitung dengan benar.

Pola pikir kepulauan tidak menuntut istimewa.
Ia hanya menuntut adil.
Adil dalam rumus.
Adil dalam pelayanan.
Adil dalam pengakuan bahwa laut bukan pemisah.
Laut adalah jalan panjang.
Menghubungkan semua mimpi kami.

Suatu hari nanti.
Ketika negara berhenti memandang kami dari kejauhan.
Ketika peta tidak lagi menggambar kami.
Sebagai titik-titik kecil di pinggir,
Maka kami akan bilang lihat.
Kami tidak pernah tertinggal.
Kami hanya menunggu giliran untuk diseberangkan.

Dan ketika jembatan keadilan berlabuh.
Kebijakan itu akhirnya datang.
Kami siap.
Dengan perahu.
Dengan jaring.
Dengan kesabaran.
untuk ikut membangun Indonesia
Tidak berhenti di bibir pantai.
Indonesia yang mendarat.
Sampai ke pulau terakhir.