Larinya melesat bak anak panah,
Bukan karena ia menyukai kecepatan
Tetapi karena badai kehidupan
Memaksanya terus melangkah tanpa henti

Dan rangkaian kata yang ia susun,
Bukan sekadar kiasan penghibur hati
Melainkan benteng pertahanan terakhir
Agar dirinya tetap tegak berdiri

Dialah sang penyembuh luka di balik sunyi
Menempa perih menjadi lentera abadi
Karena di balik topeng rapuh yang ia pakai,
Berharap tidak ada jiwa yang patah lagi