Mengetuk Pintu Rumah 2 Pintu: Lima Pelita Para Nabi untuk Jiwa yang Lalai
Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD dan Penggiat Literasi
Kehidupan ini ibarat panggung sandiwara yang sering kali membuat kita lupa diri. Kita sibuk mengejar, mengumpulkan, dan mempertahankan, seolah-olah kita akan hidup di dunia ini selamanya. Namun, jika kita mau menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia, ada untaian nasihat mendalam dari lima utusan Allah para nabi pilihan yang dikirimkan sebagai bekal untuk mengetuk pintu hati kita yang mulai membatu.
Mari kita renungkan perjalanan waktu dan hakikat eksistensi kita melalui lisan mulia mereka, bersandarkan pada petunjuk wahyu yang suci.
1. Tangisan Pertama di Bumi: Peringatan dari Ayahanda Adam AS
Perjalanan manusia di bumi dimulai dari sebuah kerinduan. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang pernah merasakan kesempurnaan Surga, tempat di mana tidak ada kesedihan maupun rasa kekurangan. Ketika beliau diturunkan ke bumi, beliau memahami betul bahwa dunia ini bukanlah rumah sejati, melainkan tempat pengasingan sementara.
Dari lisan beliau, mengalir sebuah peringatan yang tajam:
“Celakalah anak Adam yang cinta dunia…”
Nabi Adam ingin kita menyadari hakikat waktu yang kita miliki di dunia ini: bahwa apa yang telah berlalu kemarin tidak akan pernah kembali, apa yang kita jalani sekarang belum tentu bisa kita jaga, dan apa yang kita harapkan esok hari belum tentu sempat kita nikmati.
Nasihat ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits tentang bahaya penyakit wahn:
“Hampir tiba masanya bangsa-bangsa memperebutkan kalian… karena ada penyakit Wahn dalam hati kalian.” Sahabat bertanya, “Apakah Wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
2. Rumah dengan Dua Pintu: Hakikat Waktu Menurut Nabi Nuh AS
Manusia sering kali tertipu oleh angka dan usia. Kita merasa masa muda masih panjang, dan ajal masih jauh di awang-awang. Untuk meruntuhkan ilusi ini, beralihlah kita pada kisah Nabi Nuh AS, seorang rasul yang dianugerahi umur yang luar biasa panjang ratusan tahun beliau habiskan hanya untuk berdakwah.
Di akhir hayatnya, ketika ditanya bagaimana ia melihat dunia, Nabi Nuh menjawab bahwa dunia yang ia tinggali selama berabad-abad itu rasanya tidak lebih dari sebuah rumah yang hanya memiliki dua pintu. Masuk dari pintu depan, dan langsung keluar melalui pintu belakang.
Hakikat singkatnya dunia ini digambarkan dengan sangat puitis dan mendalam di dalam Al-Qur’an:
“Pada hari mereka melihat hari kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at: 46)
3. Keteguhan Hati Ibrahim AS: Menolak yang Fana
Ketika waktu terus mengejar, manusia sering kali mencari perlindungan pada materi. Kita mencintai harta, jabatan, dan manusia lain, berharap mereka bisa memberi kebahagiaan abadi. Pada titik inilah, Nabi Ibrahim AS hadir membawa pelita makrifat.
Dalam pencarian spiritualnya, Nabi Ibrahim menyaksikan indahnya bintang, megahnya bulan, dan agungnya matahari. Namun, saat semua keindahan itu tenggelam dan lenyap, dengan keteguhan hati beliau berkata:
“…Aku tidak suka kepada yang terbenam (yang fana).” (QS. Al-An’am: 76)

