Mengetuk Pintu Rumah 2 Pintu: Lima Pelita Para Nabi untuk Jiwa yang Lalai
Nasihat Nabi Ibrahim adalah tamparan lembut bagi jiwa kita. Beliau mengingatkan agar kita jangan pernah menaruh cinta pada sesuatu yang bisa rusak, hilang, atau meninggalkan kita. Allah SWT juga menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)
4. Teguran Sunyi Nabi Isa AS: Menikmati Roti, Melupakan Sang Pemberi
Namun, manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Saat perut kenyang dan urusan duniawi terpenuhi, kita sering kali berjalan di muka bumi dengan kepala tegak, melupakan siapa yang memberi kita napas.
Nabi Isa AS, sang nabi yang hidupnya penuh dengan kezuhudan, pernah melayangkan sebuah sentilan yang amat menyentuh sanubari:
“Kalian memakan roti, tetapi kalian melupakan Sang Pemberi Nikmat.”
Kita sering kali mencintai hadiah-Nya, tetapi mengabaikan Sang Pemberi Hadiah. Terkait kelalaian manusia dalam bersyukur ini, Allah SWT berfirman:
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).” (QS. Saba’: 13)
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin… Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
5. Puncak Kesadaran dari Kekasih Allah, Muhammad SAW
Hingga akhirnya, rangkaian nasihat ini bermuara pada penutup para nabi, Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah manusia yang tirainya telah disingkap oleh Allah; beliau telah diperlihatkan luasnya langit, indahnya Surga, dan mengerikannya akhirat.
Dengan suara yang penuh kasih sekaligus ketakutan yang amat dalam atas umatnya, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits sahih:
“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah puncak dari segala kesadaran. Kita yang hidup di akhir zaman ini terlalu banyak tertawa, terlalu banyak bermain-main, dan terlalu santai menghabiskan waktu seolah akhirat adalah dongeng pengantar tidur. Andai saja kita melihat bagaimana menegangkannya hari penimbangan amal, bagaimana ngerinya jembatan Sirath, dan bagaimana dahsyatnya hisab, niscaya kita tidak akan sempat lagi menyombongkan diri atau menunda-nunda taubat.
Menata Kembali Arah Langkah
Kelima nasihat beserta dalil-dalil suci ini bukanlah untaian kata untuk membuat kita berputus asa dari kehidupan, melainkan sebuah kompas agar kita tidak tersesat jalan.
Dunia ini, dengan segala perhiasannya, hanyalah jembatan. Tugas kita bukanlah membangun istana di atas jembatan tersebut, melainkan berjalan secepat mungkin menyeberanginya untuk pulang ke rumah yang sesungguhnya. Selagi napas masih dikandung badan, dan pintu belakang “rumah dua pintu” itu belum terbuka untuk kita, mari tata kembali hati kita. Gunakan dunia di tanganmu untuk membeli kebahagiaan di akhiratmu.

