Laporan ini menggambarkan bahwa setelah gugurnya Raden Keling dan sebelum atau bersamaan dengan kedatangan Raden Badar, Nyireh sempat mengalami kekosongan kekuasaan dan ditinggalkan. Kedatangan Raden Badar kemudian menjadi upaya untuk menghidupkan kembali basis perlawanan ini. Namun, ini adalah salah satu catatan terakhir yang menyebut Nyireh sebagai pusat aktivitas militer yang aktif.

Setelah periode ini, jejak Raden Ali dan aktivitas perlawanan di Nyireh nyaris hilang dari catatan sejarah. Keberadaan Raden Ali baru muncul kembali secara samar dalam dokumen resmi hampir tiga dekade kemudian.

Penangkapan Raden Ali dan Senyapnya Nyireh

Informasi paling akhir dan paling kelam mengenai Nyireh ditemukan dalam Algemeen Verslag der Residentie Banka Over het Jaar 1850 (Bundel Bangka No. 41). Laporan ini tidak lagi berbicara tentang pertempuran atau pertahanan, melainkan tentang penyerahan. Dokumen tersebut secara singkat menyinggung proses penangkapan Raden Ali di pemukiman Nyireh.

Yang menarik dan tragis dari laporan ini adalah peran mantan istri Raden Ali. Dinyatakan bahwa istri Demang Kurau, yang sebelumnya adalah istri Raden Ali, “dikenal memiliki keberanian pribadi yang tinggi” dan telah berjasa dalam “proses penyerahan Raden Ali kepada pemerintah, dengan menyediakan sebuah perahu.” Dari keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa penangkapan Raden Ali oleh pemerintah kolonial diduga kuat difasilitasi oleh mantan istrinya sendiri. Sebuah akhir yang ironis bagi seorang pejuang, setelah bertahun-tahun bertahan dan melawan, ia akhirnya ditangkap bukan karena kalah dalam pertempuran, melainkan karena pengkhianatan dari orang terdekat.

Setelah penangkapan Raden Ali, Nyireh kehilangan tokoh kunci terakhirnya. Riwayat pemukiman ini sebagai pusat perlawanan pun berakhir. Seiring berjalannya waktu, nama Nyireh perlahan memudar dari peta sejarah dan ingatan kolektif.

Menuntut Kembali Warisan Sejarah yang Terlupakan

Rekonstruksi sejarah ini menunjukkan bahwa Nyireh adalah situs bersejarah, bukan sekadar “tempat persembunyian lama” (oude schuilplaats), melainkan sebuah panggung tempat para aktor sejarah seperti Raden Keling, Raden Ali, Raden Badar, dan Batin Ganing memainkan peran mereka dalam drama besar perlawanan terhadap imperialisme. Di lokasi inilah strategi disusun, aliansi dijalin, dan harapan terakhir dipertahankan.

Penemuan beberapa meriam kuno di sekitar kawasan Nyireh bukanlah hal yang mengejutkan jika merujuk pada catatan Belanda yang menyebutkan bahwa Batin Ganing memerintahkan seluruh peralatan perangnya dibuang ke dalam air. Artefak-artefak ini adalah bukti material dari kepanikan, strategi, dan perlawanan yang pernah terjadi di tempat ini.

Selain meriam, terdapat pula makam-makam keramat yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para pejuang atau tokoh masyarakat setempat pada masa itu. Keberadaan makam-makam ini tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga nilai spiritual dan kultural yang mendalam bagi masyarakat sekitar.

Temuan lainnya adalah keberadaan belanga besar periuk raksasa. Keberadaan belanga semacam ini mengindikasikan bahwa Nyireh pernah menjadi pusat logistik dan pemukiman yang padat, mendukung narasi bahwa tempat ini adalah markas pertahanan, bukan hanya tempat persembunyian sementara.

Namun, temuan yang paling dramatis adalah keberadaan bangkai kapal tenggelam di hulu Sungai Nyireh. Temuan ini berpotensi menjadi bukti fisik dari armada perang yang disebutkan dalam catatan Belanda, baik itu bagian dari tiga puluh perahu bantuan dari Lingga dan Temian, atau sisa dari armada Raden Badar yang datang dari Palembang, atau bahkan perahu yang disediakan oleh mantan istri Raden Ali dalam proses penyerahan dirinya. Setiap kemungkinan ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa dan menunggu untuk diungkap melalui penelitian arkeologi maritim yang serius.

Keberadaan artefak-artefak ini, meriam, makam keramat, belanga besar, dan kapal tenggelam menegaskan bahwa Nyireh adalah sebuah realitas historis yang jejak fisiknya masih membekas.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat: melakukan inventarisasi dan dokumentasi situs, penelitian arkeologis yang mendalam terutama terhadap kapal tenggelam di hulu sungai serta menjadikan Benteng Nyireh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi.