UBB Hattrick di Lustrum IV: Dari Kampus Daerah Menuju Simpul Peradaban

Oleh: Yan Megawandi — Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Ada yang berbeda di Balunijuk, Senin pagi, 13 April itu. Udara terasa lebih khidmat, tetapi juga penuh harap. Universitas Bangka Belitung (UBB) tidak sekadar merayakan usia karena ia sedang merayakan perjalanan, kerja keras, dan mimpi panjang yang mulai menemukan bentuknya. Dua dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah perguruan tinggi di daerah. Namun, UBB menunjukkan bahwa usia hanyalah angka ketika di dalamnya ada visi, konsistensi, dan keberanian untuk bertumbuh.

Lustrum IV menjadi momentum istimewa. Bukan hanya karena genap 20 tahun berdiri sejak 12 April 2006, tetapi karena UBB berhasil mencetak “hattrick” yang tidak banyak dilakukan kampus seusianya.

Baca Juga  Revitalisasi Benteng Toboali: Destinasi Wisata Sejarah di Selatan Pulau Bangka

Hattrick pertama adalah capaian akademik yang membanggakan: pengukuhan tiga guru besar sekaligus. Lebih istimewa lagi, ketiganya adalah perempuan. Di bulan April, yang selalu kita ingat sebagai ruang simbolik perjuangan perempuan Indonesia. UBB seperti sedang mengirim pesan kuat: bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas gender, dan perempuan Bangka Belitung hadir di garis depan peradaban akademik.

Tiga nama itu kini menjadi tonggak baru: Prof. Dr. Devi Valeriani di bidang ekonomi pariwisata, Prof. Dr. Reniati di bidang manajemen SDM strategis, dan Prof. Dr. Derita Prapti Rahayu di bidang hukum perusahaan pertambangan. Dengan tambahan ini, UBB kini memiliki enam guru besar, angka yang mungkin terlihat kecil bagi kampus besar di Jawa, tetapi sangat berarti bagi perguruan tinggi yang tumbuh dari semangat daerah.

Baca Juga  Membangun Kesejahteraan Rakyat di Tengah Ancaman Banjir Bandang dan Rusaknya Tata Kelola SDM

Lebih menarik lagi, sebagaimana disampaikan Rektor UBB, Prof. Ibrahim, masih ada 33 dosen lektor kepala yang berpotensi menjadi guru besar berikutnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa UBB sedang membangun fondasi akademik yang kokoh dan berkelanjutan.

Hattrick kedua adalah peresmian Gedung De Universitaria. Sebuah ruang fisik yang sekaligus menjadi simbol kematangan institusi. Gedung megah ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang bertemunya gagasan, diskursus, dan masa depan. Kampus tidak hanya dibangun dari kurikulum dan dosen, tetapi juga dari ruang-ruang yang memungkinkan ide berkembang.

Dan hattrick ketiga, yang mungkin tidak kasat mata tetapi justru paling fundamental, adalah capaian kelembagaan yang ditunjukkan dalam sambutan Rektor: UBB telah bergerak dari sekadar berdiri menjadi institusi yang “berdikari membangun negeri”.

Baca Juga  Runtuhnya Etika di Laut Timah: Ketika Keadilan Tergadai pada Kekuatan Modal

Dalam dua dekade, UBB mencatat lompatan yang signifikan. Dari 13 program studi di awal berdiri, kini berkembang menjadi 36 program studi. Jumlah mahasiswa aktif meningkat drastis, dari hanya 1.192 orang pada 2006 menjadi lebih dari 10.000 mahasiswa pada 2025, dengan tren peminat yang terus meningkat hingga lebih dari 12.000 calon mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap UBB semakin kuat.

Tidak hanya itu, UBB juga telah mencapai berbagai tonggak penting: menjadi perguruan tinggi negeri pada 2010, meraih akreditasi institusi “B”, membuka program magister, mendirikan fakultas kedokteran, hingga berstatus Badan Layanan Umum (BLU) pada 2023. Status BLU ini penting karena memberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan untuk mempercepat inovasi dan layanan pendidikan.