Koba Tertinggi Kasus Kekerasan Perempuan, Bupati Algafry Ajak Tokoh Agama Bergerak
“Khususnya di Kecamatan Koba, ada 11 kasus yang terjadi yakni kekerasan terhadap anak dan perempuan. Secara psikis itu juga sampai mendekati ya hampir 30% yang terjadi dari 11 kejadian itu,” ujar Algafry.
Ia menekankan pentingnya peran serta seluruh elemen masyarakat, terutama para guru dan tokoh agama, untuk mengedukasi generasi muda agar tidak terburu-buru mengambil keputusan menikah di usia dini.
“Kami berharap para guru dapat menyampaikan kepada siswanya agar tidak berpikir untuk langsung menikah setelah tamat SMP,” tegasnya.
Sementara itu, Psikolog Chitra Fraghini, M.Psi., selaku narasumber memaparkan bahwa pernikahan dini membawa dampak buruk yang mendalam bagi kondisi psikologis perempuan. Beberapa di antaranya meliputi krisis identitas dan trauma emosional karena masa pencarian jati diri yang terganggu, kecemasan berlebih hingga depresi, kurangnya kesiapan mental dalam menghadapi konflik rumah tangga, hingga risiko perceraian dini akibat tekanan mental dan ketidakharmonisan keluarga.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Pemkab Bangka Tengah berharap sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga perlindungan, pendidik, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi melindungi hak-hak anak dan perempuan serta mewujudkan masa depan generasi muda yang lebih matang dan berkualitas.

