Di salah satu bagian ruang, batu granit datar terbentang menyerupai sebuah dipan atau tempat peristirahatan alami. Permukaannya dingin, lembap, dan terasa begitu berbeda dari batu-batu di sekelilingnya. Di tempat inilah imajinasi dan cerita rakyat seolah menemukan ruangnya.

Kesunyian, remang cahaya, kepakan kelelawar, serta bongkahan granit yang membentuk ruang-ruang alami membuat Guwo Mate Anak memiliki atmosfer yang sulit dilupakan. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya sebuah gua di tengah belantara, tetapi bagi masyarakat yang mengenal kisahnya, tempat ini menyimpan cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar batu dan kegelapan.

Guwo Mate Anak bukan sekadar gua biasa. Ia adalah pengingat bahwa di Bangka Selatan, alam dan cerita leluhur masih berjalan beriringan.

Menariknya, lokasi ini juga menjadi titik penelitian manusia prasejarah oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diketuai oleh Dr. Moh. Mualliful Ilmi, S.Si., M.Si. (BRIN), dengan anggota:

Adhi Agus Oktaviana, S.Hum., Ph.D. (BRIN)

Sigit Eko Prasetyo, S.Hum., M.Hum. (BRIN)

Dr. Budi Agung Sudarmanto, S.S., M.Pd. (BRIN)

Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana (Universitas Indonesia)

Prof. Dr. Evi Maryanti, M.Si. (Universitas Bengkulu)

Ari Mukti Wardoyo Adi, M.A. (Universitas Jambi)