Bubor Nunu dan Aruk Gelagau Beltim Direkomendasikan Jadi WBTb Indonesia 2026
Yulhaidir menjelaskan, Bubor Nunu dan Aruk Gelagau bukan sekadar makanan, melainkan simbol identitas serta pengetahuan tradisional masyarakat Belitong. Bubor Nunu erat kaitannya dengan tradisi berladang (ume taun). Sedangkan Aruk Gelagau merupakan olahan berbahan dasar menggale (singkong) yang juga bagian dari rangkaian tradisi tersebut.
Meski kaya nilai sejarah, keberadaan kedua kuliner ini mulai terancam akibat perubahan zaman. Bubor Nunu terkendala masalah regenerasi dan minimnya wadah pengembangan, sementara Aruk Gelagau kian langka karena berkurangnya pembuat tradisi dan bahan baku.
Untuk menjaga kelestariannya, Pemkab Beltim menyiapkan berbagai langkah strategis. “Ke depan, kita dorong pelestariannya melalui edukasi, komunitas, UMKM, digitalisasi, dan penguatan sebagai daya tarik pariwisata budaya Belitung Timur,” jelas Yulhaidir.
Masuknya Bubor Nunu dan Aruk Gelagau menambah deretan warisan budaya Beltim yang diakui secara nasional sejak 2016. Hingga tahun 2026, Kabupaten Belitung Timur kini mencatatkan total 20 WBTb Indonesia. ***

