Imranul Karim Qari muda berbakat asal Bima, NTB (yang juga mewakili Kalimantan Timur), meraih Juara 1 MTQ Internasional di Rusia serta Juara 1 di Bangladesh. Muhammad Zian Fahrezi: Qari cilik asal Bima, NTB, yang menjuarai MTQ Internasional di Irak serta meraih prestasi di Aljazair. Diana Abdul Jabbar: Keluar sebagai Juara 1 kategori hafidz Quran pada ajang MTQ Internasional. H. Muammar ZA: Qari senior legendaris Indonesia yang sangat ikonik dan mendunia berkat prestasi dan kemampuan napas panjangnya pada era 1980-an. Maria Ulfah & Sarini Abdullah: Qariah senior yang namanya harum di kancah internasional pada era 1970-1980an dalam Kompetisi Tilawah Al Quran Tingkat Internasional, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kegiatan MTQ sendiri pertama kali dilaksanakan di Indonesia pada bulan Ramadan tahun 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada saat ini pelaksanaan dipusatkan di masjid Raya Makassar dan hanya melombakan cabang tilawah dewasa (putra dan putri).

Menteri agama saat itu adalah K.H. Muhammad Dahlan. Setelah sukses melaksanakan MTQ perdana tersebut pemerintah melaksanakan ajang yang sama pada tahun berikutnya di Banjarmasin tepatnya tahun 1969 dan terus berlanjut sampai dengan sekarang.

Selama pelaksanaan MTQN kesatu sampai keenam peserta yang ikut hanya golongan yang dianggap “normal”. Namun pada MTQN ke-7 tahun 1974 di Surabaya, Jawa Timur ditambahkan golongan tilawah untuk disabilitas tuna netra. Golongan tuna netra ditambahkan sebagai bentuk perluasan akses bagi penyandang disabilitas. Adapun tokoh-tokoh yang menjadi penggasnya adalah K.H. Basori Alwi dan K.H. Ibrahim Hossen.

Dari MTQN ketujuh tersebut cabang yang diperlombakan stagnan, tidak ada lagi penambahan khusus bagi penyandang disabilitas. Yang berubah hanya format perlombaan dan penamaan saja plus penambahan cabang hadits nabi yang juga diperlombakan.

Setelah waktu yang cukup lama tersebut, sekarang angin segar bagi golongan disabilitas untuk ikut lomba MTQN sudah mulai berhembus. Adalah Menteri Agama, Nasarudin Umar mencetuskan ide disabilitas tuli bisa ikut MTQN ke-31 tahun 2026 yang diselengarakan 14-16 September 2026 di Semarang.

Walaupun hanya bersifat eksibisi namun ini adalah cikal bakal munculnya pengakuan terhadap kaum disabilitas yang lainnya. Adapun jumlah peserta yang akan ikut sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim. Dan golongan lomba yang diselenggarakan adalah Tilawah Isyarat yaitu membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat (diikuti 14 peserta) dan kitabah isyarat yaitu menulis Al-Qur’an bahasa isyarat (diikuti 14 peserta).

Semoga dengan adanya terobosan dari kementerian agama ini, akan muncul lagi golongan-golongan disabilitas yang diperlombakan dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an, sehingga para penyandang disabilitas memang benar-benar tidak dipandang sebelah mata lagi.