Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Kain Kafan Tetap Putih Bersih Meski Telah Dikubur 1.400 Tahun

Prolog: Dua Golongan yang Dijaga Langit

Ada dua golongan manusia yang jasadnya dijamin Allah tidak akan pernah dimakan tanah.

Pertama, para Nabi ﷺ. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”
(HR. Abu Dawud)

Kedua, para Syuhada. Allah berfirman bukan sekadar melarang, melainkan menegaskan hakikat yang lebih agung:

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki.”
(QS. Ali Imran: 169)

Dan di antara para syuhada itu, ada seorang wanita. Wanita pertama yang meneteskan darah demi Islam. Namanya Sumayyah binti Khayyat.

1. Sumayyah: Syahidah Pertama yang Hanya Memiliki Kata “Ahad”

Sumayyah bukan tokoh besar. Ia hanyalah seorang budak wanita, berkulit gelap, sudah lanjut usia, lemah dan tak berdaya. Namun ia memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harta apa pun: keyakinan yang tak tergoyahkan.

Abu Jahal menyeretnya ke tengah padang pasir Makkah yang membara. Di hadapan matanya, suaminya Yasir disiksa. Anaknya Ammar dipaksa menyaksikan penderitaan orang tuanya. Lalu kepadanya diancam:

“Cacilah Muhammad, sebutlah Lata dan Uzza sebagai tuhanmu, maka kulepaskan engkau.”

Wanita tua itu mengangkat kepalanya, menatap langit di antara siksaan, dan dengan sisa tenaga yang ada berteriak:

“AHAD… AHAD…” — Satu… Satu-satunya…”

Tombak tajam menembus dadanya. Ia gugur di tempat. Menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah ﷺ yang lewat di tempat itu hanya dapat berdoa:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian adalah Surga.”

Siapa yang menyangka? Seorang wanita yang tak punya kedudukan, tak punya harta, tak punya kekuatan — hanya memegang teguh kalimat Tauhid hingga napas terakhir — Allah menjadikan jasadnya terjaga dari kerusakan. Tanah tidak berani menyentuhnya.

2. Di Bukit Uhud: Darah yang Tetap Mengalir

Tujuh tahun kemudian, di padang Uhud, 70 sahabat gugur membela Rasulullah ﷺ. Di antara mereka paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang ayah yang mulia, Abdullah bin Amr bin Haram. Karena banyaknya jenazah, dua hingga tiga syuhada dimakamkan dalam satu liang. Abdullah bin Amr dimakamkan bersama sahabatnya, Amr bin Jamuh.

Enam bulan berlalu. Putranya, Jabir bin Abdullah, bermimpi berulang kali. Ia merasa gelisah. Ia ingin memindahkan ayahnya ke tempat yang lebih terhormat. Saat makam dibuka, inilah yang ia saksikan sendiri — dan tercatat dalam Shahih Al-Bukhari No. 1351: