Setelah menawarkan diri untuk menuntun masuk sebelumnya sempat ditanya ke mana arah Raudhah oleh mereka tak terasa sambil bercengkerama hamba sampai kembali ke Raudhah. Ada sebuah hikmah yang tersirat: para Mbah begitu tenang, tidak ada perubahan mimik yang berarti di wajah mereka. Mereka sudah tahu mereka akan ditakdirkan masuk Raudhah bertamu ke Rasulullah SAW. Hamba merasa kerdil di depan mereka.

Ada kebiasaan yang hamba ulangi selanjutnya: hamba tidak pernah menanyakan nama insan yang bertemu. Hamba bagai sudah kenal lama dan yakin akan berjumpa lagi. Hamba hanya ingat pesan guru, berbuat baiklah sekecil apa pun di sana, kenali wajahnya saja, dan berlalu seperti angin tanpa pamrih.

Untuk kali kedua hamba bersimpuh di Raudhah, kali ini di samping mihrab Rasulullah SAW mengenang perjuangan beliau. Sesaat tersentak, “Khalas!” (Sudah), askar menegur hamba harus segera berangkat karena banyak yang mengantre. Mencari rombongan Mbah yang sudah hilang di depan mata. Keluar Raudhah lewat Bab Al-Baqi (41), sempatkan menyapa Nabi dan dua khalifahnya yang mulia.

Malam ini langit cerah, Kota Nabi masih hidup menjamu para peziarah. Insan bercengkerama dengan wajah ceria dengan masing-masing cerita di hatinya. Hamba bergerak pulang menikmati malam indah berbintang. Badan punya haknya, hamba harus istirahat kembali ke peraduan.