Kurangi Kimia, IPB University Dorong Petani Batu Betumpang Pakai Pupuk Organik
Kurangi Kimia, IPB University Dorong Petani Batu Betumpang Pakai Pupuk Organik
BANGKA SELATAN, TIMELINES.ID — Di tengah meningkatnya harga pupuk kimia dan tantangan ketersediaan input pertanian, petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang mulai didorong memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bagian dari transisi menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan dan pengaplikasian Pupuk Organik Cair (POC) yang diselenggarakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University pada Sabtu (19/9).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 18 petani penggerak dan turut dihadiri Kepala Desa Panca Tunggal, Nurdin, serta Kepala Desa Sumber Jaya Permai, Thoha Maksum. Pelatihan menjadi bagian dari rangkaian Farmer Field and Business School (FFBS) yang dikembangkan TEP IPB University di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan.
Melalui pelatihan tersebut, petani mempraktikkan pembuatan POC dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendekatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan petani menyediakan input secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input kimia secara bertahap.
Kepala Desa Panca Tunggal, Nurdin, menilai kenaikan harga pupuk kimia menjadi salah satu alasan penting bagi petani untuk mulai mencari alternatif.
“Pupuk kimia mulai mahal, sehingga memang petani harus memanfaatkan bahan yang ada dengan membuat pupuk organik. Diharapkan petani yang hadir di FFBS ini dapat menerapkan praktik yang dilaksanakan pada FFBS,” ujar Nurdin.
Narasumber pelatihan, Suhudi, menekankan bahwa pengembangan pertanian organik tidak harus dimulai dengan teknologi yang rumit atau bahan yang sulit diperoleh.
“Organik itu mencari yang mudah, bukan yang sulit,” ungkap Suhudi.
Menurutnya, pendekatan tersebut relevan dengan kondisi pertanian setempat yang menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan air pada lokasi tertentu dan kondisi tanah yang relatif masam. Namun, perubahan menuju praktik yang lebih organik membutuhkan proses karena petani telah lama menggunakan input kimia dalam kegiatan budidaya.

