Karena itu, TEP IPB University mendorong proses transisi secara bertahap. Petani tidak hanya diperkenalkan pada alternatif input, tetapi juga didorong untuk mencoba, mengevaluasi, dan menyesuaikan praktik tersebut dengan kondisi lahan dan usaha tani masing-masing.

Kepala Desa Sumber Jaya Permai, Thoha Maksum, berharap kegiatan Ekspedisi Patriot dapat menjadi awal munculnya praktik baru yang dapat terus dikembangkan oleh petani.

“Diharapkan ada gebrakan baru untuk menuju pertanian organik. Program TEP dari IPB saat ini juga sudah mulai menuju ke organik. Harapannya setelah program ini selesai, petani dapat meneruskan penggunaan organik,” ujarnya.

Antusiasme serupa disampaikan salah satu peserta FFBS, Ayik Sofyan. Menurutnya, pelatihan tersebut relevan di tengah meningkatnya harga dan kendala ketersediaan pupuk.

“Sangat mendukung para petani yang saat ini harga pupuk mahal dan sulit didapatkan. Dengan adanya kegiatan kita meracik pupuk organik, mudah-mudahan petani tertarik dan memakai pupuk organik,” ujar Ayik.

Pelatihan POC bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Melalui FFBS, TEP IPB University mendorong petani belajar melalui praktik langsung sekaligus membangun 18 petani penggerak yang diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan pengalaman kepada petani lainnya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari proses membangun pertanian yang lebih berkelanjutan di Batu Betumpang. Perubahan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lahan, kemampuan petani, kelayakan ekonomi, dan akses pasar.

Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat pupuk organik. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kapasitas petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan terhadap input kimia, dan melanjutkan proses pembelajaran setelah program Ekspedisi Patriot berakhir.