Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (IV)
Sebab, lanjut Guru, bukankah ketika tidak ada pembelaan lain di hadapan-Nya nanti hanya syafaat junjungan terkasih yang bisa menyelamatkan kita. Ini yang menemani hamba selama di Madinah, selawat, tidak ada doa khusus lain selain dari doa-doa manasik dan selawat tanpa henti.
Sekonyong-konyong hamba tersenggol oleh kursi roda yang didorong oleng sebab sulit bergerak mengantre padat. Hamba menepi, melirik ternyata seorang pemuda (Indonesia) mendorong ibunya dengan kursi roda yang sudah diarahkan dan bergerak dalam aliran jemaah. Setelah beriring sesaat, mereka tertinggal macet. Terbetik asa, hamba hampiri tanya mau ke mana? Dijawab pemuda mengantar ibunya ke Raudhah.
Hamba menawarkan diri membuka jalan dalam antrean, disambut suka oleh pemuda. Hamba memandu sampai pintu pagar Raudhah, memohon kepada askar izin masuk untuk mereka. Pemuda dan ibunya berkursi roda masuk ke dalam Raudhah.
Ada kata sakti yang dipahami oleh askar, “Boleh”. Maka askar akan paham bahwa warga Indonesia memohon izin. Izin diberikan dengan senyuman, pemuda dan ibunya berkursi roda masuk Raudhah. Hamba pamit ke mereka lanjut melangkah menuju makam Rasulullah SAW, karena janji telah ditunaikan mengantar mereka masuk Raudhah.
Di saat telah beberapa langkah pergi, hamba dicegat askar bermisai rapi dari belakang, disuruh kembali ikut masuk Raudhah. Hamba tercekat, inilah bukti kesucian di Kota Nabi, setiap kebaikan langsung dapat ganjaran. Dengan tersenyum bahagia tanpa antrean panjang, hamba masuk Raudhah, bersimpuh di samping mihrab imam memohon kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, ampunan-Nya untuk ibuku, bapakku, keluarga, dan umat dalam serpihan surga yang selalu diharap.
Hati berbunga melangkah keluar Raudhah mengucapkan “syukron” kepada sang askar, bergegas mengadu kepada Rasulullah SAW. Sungguh indah keberkahan kota dan masjid Beliau. Ada satu momen berulang bertemu bertanya nama, namun serasa saudara, hanya wajah yang terekam di kepala. Ya Allah, pertemukan kami di surga-Mu.
Hamba dan cinta menghabiskan waktu menikmati indahnya malam di pelataran Masjid Nabi, sebab hajat telah terpenuhi serentak tadi: menikmati surga dan menyapa Nabi akhir zaman.

