Mengemas Kritik Lewat Sastra Digital
Oleh: Dedy Irawan – Wartawan Timelines.id/Penikmat Karya Sastra
Penjara bak istana megah…
Fasilitas lengkap, elit dan wah!
Ini bukan kisah baru,
Telah lama terdengar sampai kujemu!
(Sang Peramu Aksara)
Pekan ini dua puisi masuk hampir bersamaan ke redaksi. Narasinya berisikan kritik tentang Lapas Cibinong yang viral setelah disidak Ombudsman RI. Betapa tidak, Indonesia tersentak melihat tayangan video yang berseliweran di media massa online.
Hati panas dan emosi. Bagaimana mungkin seorang terpidana malah ditempatkan di ruang bak kamar hotel atau apartemen. Hal serupa dirasakan para pegiat sastra yang aktif menulis di halaman Pekan Sastra Timelines.id.
Jadinya, luapan kekesalan dituangkan dalam bait-bait puisi. Sebenarnya bukan momen ini saja, para pegiat literasi menuangkan kekesalannya lewat tulisan.
Beberapa kasus viral sebelumnya juga mereka tuangkan dalam bentuk cerpen atau pun puisi. Seperti kasus korupsi Badan Gizi Nasional dan Program Makan Bergizi Gratis yang tak pernah habis untuk dinarasikan.
Karya Sastra sebagai Senjata
Sejak dulu karya sastra sudah dijadikan para pejuang sebagai senjata untuk menentang dan melawan penjajahan. Sebut saja, Buku Max Havelaar yang ditulis Eduard Douwes Dekker (Multatuli) pada abad ke-19.
Multatuli adalah seorang berkebangsaan Belanda yang menjadi pegawai residen di Hindia Belanda waktu itu. Hatinya berontak ketika itu. Ia melihat penyelewengan yang dilakukan bupati dan kepala residen pada sistem tanam paksa.
Multatuli kemudian menulis buku Max Havelaar. Buku itu gempar pada tahun 1860 hingga terjadi aksi protes ke Kerajaan Belanda. Akhirnya kebijakan tanam paksa pun dihapus di Indonesia.
Sama hal dengan Ki Hadjar Dewantara dalam tulisannya berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Karya sastra bergenre satire ini yang terbit pada tahun 1913 di media De Express.
Tulisan itu berisi kritik terhadap Belanda yang akan merayakan 100 tahun kemerdekaannya. Namun miris, seremonial yang digelar di Indonesia itu harus meminta sumbangan warga Hindia Belanda sendiri. Akibat tulisan itu, Soewardi Soerjaningrat ditangkap dan dipenjara oleh Belanda.

