Mengemas Kritik Lewat Sastra Digital
Sastra Digital
Di era digital yang serba cepat ini, karya sastra cetak sudah kalah lirikan dibanding sastra digital. Para pegiat sastra lebih memilih menuangkan karyanya ke sarana kreatif digital lainnya.
Kadang media sosial lebih cepat viral dibanding media siber. Para pegiat lebih memilih Tik Tok dan IG sebagai sarana digital yang lebih cepat dengan jangkauan yang luas.
Karya sastra seperti puisi yang dibacakan, atau dalam bentuk tulisan, diposting ke media sosial. Begitu juga dengan tulisan cerpen yang dijadikan film pendek menggunakan sarana kreatif digital.
Kita lihat saat ini, berbagai video animasi tentang karya sastra berseliweran di media sosial kita. Dan harus kita akui, saat ini masyarakat lebih cenderung menonton dibandingkan membaca tulisan.
No Viral No Justice
Fenomena ini kadang tak terbantahkan. Protes masyarakat diabaikan jika tidak viral. Kritik sastra pun begitu. Kritik sastra yang tak ramah dengan teknologi kekinian, tak akan terjangkau oleh akses yang luas.
Kritik tak viral maka tak ditoleh sedikit pun. Jangan harap akan direspons. Akibatnya, misi pun gagal. Para pegiat sastra sejak tahun 2000an mulai bergeser mengenalkan karyanya melalui sarana kreatif digital.
Sastra siber, sastra online, dan atau sastra digital. Mungkin itulah namanya. Aksesnya cepat dan luas. Viral pun pasti akan lebih cepat. Kritik lewat karya sastra akan cepat ditanggapi.
Ya, kritik tak melulu lewat perjuangan fisik. Karena karya sastra tak selalu berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang kejujuran (kritik sosial) terhadap kehidupan yang terjadi saat ini.
Hotel prodeo tak lagi menakutkan
hotel prodeo bagaikan penginapan penuh suguhan
Ini bukan halusinasi!
Penuh pembatas namun penuh tawa
Kemana keadilan?
(Indra Pirmana)

