Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang bergerak begitu cepat, hati kita sering kali merasa lelah. Kita terjebak dalam perlombaan tanpa akhir: mengejar pencapaian yang tak ada ujung, mengumpulkan materi yang tak pernah dirasa cukup, mencemaskan hari esok yang belum tentu kita temui. Hati menjadi penuh, sesak, dan terkadang mati rasa.

Di sinilah, ratusan tahun lalu, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyelipkan sebuah oase di bagian akhir kitabnya Bulughul Maram. Oase itu bernama Bab Az-Zuhd wa Al-Wara’. Di tengah aturan hukum yang tegas, beliau mengingatkan: hukum tanpa kelembutan hati hanya melahirkan raga yang patuh, bukan jiwa yang berserah. Beliau ingin kita pulang membawa hati yang bersih.

Zuhud: Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Banyak yang keliru mengira zuhud berarti hidup miskin, berpakaian compang-camping, atau menjauh dari peradaban. Tidak. Islam tidak sekejam itu.

Zuhud yang sejati adalah perkara rasa di dalam dada. Orang yang zuhud bisa saja orang sukses, kaya raya, atau memegang kekuasaan besar. Namun perbedaannya: bagi mereka, dunia hanyalah air di atas kapal — cukup untuk mengapung menuju tujuan, tetapi celaka jika dibiarkan masuk ke dalam lambung. Ketika dunia masuk ke hati, di situlah kita mulai tenggelam dalam ketamakan, kecemasan, dan takut kehilangan.

Rasulullah ﷺ membisikkan rahasia itu:

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)

Saat kita berhenti menuntut dunia memuaskan ego, dan berhenti memandang iri apa yang digenggam orang lain — di situlah kedamaian lahir. Dicintai langit karena tulus, dicintai bumi karena tak merampas hak sesama.

Wara’: Menjaga Kesucian di Jalan Penuh Duri

Jika zuhud adalah pandangan luas terhadap dunia, wara’ adalah kompas harian kita. Ia adalah kehati-hatian yang lahir dari cinta yang dalam kepada Allah.

Bayangkan berjalan di jalan sempit yang berduri di kanan-kiri. Kita melangkah pelan, erat menarik pakaian agar tak tersangkut. Itulah wara’.

Di antara yang jelas halal dan yang jelas haram, ada wilayah samar bernama syubhat. Di sinilah wara’ diuji. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.”
(HR. Tirmidzi & An-Nasa’i)

Orang yang berwara’ tidak bertanya: “Apakah ini haram?” — mencari celah agar boleh melakukannya. Ia justru bertanya: “Apakah ini diridai Allah?” Jika ada secuil keraguan, ia memilih mundur. Rela kehilangan keuntungan sesaat, demi menjaga kedekatannya dengan Yang Maha Melihat.

Ibnu Al-Qayyim merangkum indahnya: