Persiapan tersebut juga dilengkapi dengan latihan wawancara, termasuk menjelaskan latar belakang penelitian, alasan pemilihan topik, rencana studi, dan tujuan setelah menyelesaikan pendidikan.

Baginya, tantangan terbesar bukan hanya memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga menjaga konsistensi dan kepercayaan diri setelah menghadapi kegagalan. Ia sempat mempertanyakan kemampuannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Namun, seiring waktu, ia memahami bahwa kegagalan seleksi bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan.

“Gagal dalam satu seleksi bukan berarti gagal dalam perjalanan. Bisa jadi kita hanya sedang diarahkan menuju kesempatan yang lebih tepat,” tuturnya.

Mengembangkan Nanomaterial untuk Aplikasi Biomedis

Dalam studi doktoralnya di Kyushu Institute of Technology, Marhan berfokus pada pengembangan functional nanomaterials, khususnya material berbasis magnetit dan pengembangannya ke dalam sistem komposit atau mikrokapsul untuk aplikasi biomedis.

Topik tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian magisternya yang berfokus pada sintesis dan karakterisasi nanopartikel Fe₃O₄ untuk aplikasi magnetic hyperthermia.

Melalui penelitian doktoral, ia ingin mengembangkan pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana material magnetik dapat dirancang dan dikembangkan agar memiliki karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan aplikasi biomedis.

Jepang dipilih karena memiliki ekosistem penelitian dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan minat akademiknya. Sementara itu, Kyushu Institute of Technology menjadi pilihan karena kesesuaian bidang penelitian di laboratorium dengan rencana riset yang ingin dikembangkannya.

Selain memperdalam kompetensi teknis, studi doktoral ini diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk membangun jejaring akademik internasional, memperluas pengalaman penelitian multidisipliner, serta menghasilkan karya ilmiah yang berkontribusi pada pengembangan material fungsional dan nanoteknologi.

Berani Mencoba dan Terus Mengembangkan Diri

Bagi Marhan, perjalanan meraih beasiswa internasional memberikan pelajaran bahwa keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dalam mencapai tujuan.

Ia mengajak mahasiswa, khususnya mahasiswa Fisika UBB, untuk mulai mempersiapkan diri sejak dini dengan mencari informasi beasiswa, menentukan tujuan akademik, membangun pengalaman penelitian, dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan setiap kegagalan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti berusaha.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mencoba. Ketika saya pertama kali mencoba mendapatkan beasiswa, saya juga belum mengetahui apakah saya akan berhasil. Bahkan saya mengalami beberapa kegagalan. Tetapi setiap proses tersebut justru membantu saya memahami kekurangan dan memperbaiki diri,” pesannya.

Setelah menyelesaikan studi doktoral, Marhan berharap dapat kembali berkontribusi di Indonesia melalui dunia akademik dan penelitian. Ia ingin mengembangkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama studi di Jepang, membangun kolaborasi internasional, serta menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga berharap dapat membantu mahasiswa Indonesia, khususnya yang berasal dari daerah, agar memiliki keberanian dan kesempatan yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat internasional.

Perjalanan Marhan Ebit Saputra menunjukkan bahwa pendidikan, pengalaman penelitian, dan ketekunan dapat menjadi bekal untuk membuka peluang di tingkat global.

Bagi mahasiswa dan alumni UBB, kisahnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan pengalaman maupun kegagalan dalam seleksi bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk terus belajar, berkembang, dan meraih kesempatan yang lebih luas. (Humas UBB)