Bergaul Literasi Lintas Daerah, Berkarya Lintas Batas
Pada sisi lain, dengan pergaulan literasi lintas daerah, kita makin memahami tren pasar literasi yang lebih luas dari pergaulan lintas penulis ini.
Kita sebagai penulis bisa bertukar informasi tentang dinamika industri penerbitan, selera pembaca di wilayah lain, hingga info lomba atau residensi menulis yang mungkin kurang populer di daerah kita sendiri.
Pergaulan literasi lintas daerah adalah upaya meningkatkan standar dan kualitas karya kita dalam menulis dan berkarya.
Apalagi daerah ini khususnya Toboali tidak asing dengan para penulis besar dan sastrawan Indonesia. Sebut saja WS Rendra yang pernah mengunjungi Toboali tahun 1999. Demikian pula dengan Gola Gong dan penulis skenario Si Doel Anak Betawi Harry Tjahyono. Dan dalam waktu dekat hadir Sastrawan Maman Suherman dan Edi Wiyono dalam Festival Literasi Bangka Selatan pada tanggal 13 hingga 15 oktober.
Kita bisa melihat proses kreatif dan pencapaian penulis dari daerah lain dapat memicu motivasi untuk terus belajar, mengeksplorasi teknik menulis baru, dan keluar dari zona nyaman.
Banyak penulis hebat tenggelam bukan karena kurang bakat atau tulisannya kurang bermutu, tapi karena kurang bahkan enggan bergaul dalam pergaulan literasi yang berkembang dengan dinamis. Ia hanya berkumpul dengan lingkaran yang sama, memuji karya yang sama, dan bahkan terkadang enggan menerima kritikan positif untuk kebermajuan kepenulisan.
Penulis termasuk penulis daerah yang beruntung bisa berkenalan dan bersahabat baik dengan para pendekar literasi Nusantara. Sebut saja Harry Tjahyono, penulis skenario Si Doel Anak Betawi dan penulis novel.
Demikian pula dengan persahabatan penulis dengan Duta Baca Indonesia Gola Gong. Dan sederet nama lain yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan tanah Air. Bahkan sejak penulis masih sekolah menengah atas dan belum mengenal dunia kepenulisan.
Dari pergaulan dengan penulis lintas daerah, kita mendapatkan dan memperoleh kritik yang objektif dari para penulis luar daerah untuk menambah nutrisi kita dalam berkarya dan menulis.
Rekan-rekan penulis dari luar daerah cenderung memberikan umpan balik (feedback) yang lebih objektif terhadap karya kita karena mereka tidak terikat oleh kedekatan personal sehari-hari atau bias budaya lokal yang sama.
Sudah saatnya kita meluaskan jangkauan pergaulan dalam dunia literasi untuk memperluas jaringan, dan tentunya mengenalkan dunia literasi dan penulis daerah kita kepada dunia luar sehingga penulis dan dunia literasi di luar tahu bahwa banyak penulis dan karya yang mumpuni yang ditulis dan diproduksi oleh penulis daerah. Nama daerah pun tereskalasi ke panggung literasi nasional.
Dan kita bukan penulis bak katak dalam tempurung, walaupun kita penulis dari kampung. Kita adalah perajut kata. Rangkaian kata dari Toboali Bangka Selatan untuk nusantara. Untuk peradaban Indonesia. Ayo menulis.

