Titik Terendah Menjadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Saat Mengajar Harus Berutang Dulu
Penulis: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom — Guru Informatika MTs Plus Bahrul Ulum
Pagi itu, ada tangisan di jalan menuju sekolah. Bukan tangisan anak kecil yang tak ingin berpisah dengan orang tuanya, melainkan tangisan seorang pendidik yang terpaksa berutang bensin eceran hanya agar ia bisa sampai di ruang kelas dan berdiri di depan murid-muridnya. Status unggahan di media sosial itu sederhana, namun mengiris hati begitu dalam. “Pagi ini titik terendah saya jadi guru, hutang bensin eceran untuk berangkat kerja dan sepanjang jalan menangis sesenggukan,” tulis seorang guru. Kalimat pendek itu menyembunyikan luka yang jauh lebih dalam dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Di kolom komentar, suara-suara serupa bermunculan, seolah menjadi nyanyian kesedihan yang bersahutan. Ada yang bercerita bahwa tunjangan kinerja sebesar 270 ribu rupiah belum juga cair selama sebelas hari, padahal kebutuhan tak pernah menunggu jadwal pencairan. Ada yang malu berhutang uang bensin kepada kerabat karena motor mogok di jalan saat pulang mengajar. Ada yang merasa tak pantas dimintai iuran sekolah sementara di saku sendiri tak ada uang cukup untuk makan siang. Pertanyaan sederhana namun tajam terucap: jika menjadi guru begitu menyakitkan dan penuh pengorbanan, mengapa masih banyak orang yang berjuang keras memasukkan keluarganya menjadi guru, bahkan menggeser mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi? Bukankah ini paradoks yang menyakitkan?
Kita sering mendengar ungkapkan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kata-kata itu terindah saat diucapkan dalam upacara bendera, namun terasa sangat ironis ketika kenyataan di lapangan memaksakan pahlawan itu berutang demi bisa hadir di tempat tugas. Mengapa harus ada pilihan menyakitkan: membeli bensin untuk berangkat mengajar atau membeli kebutuhan dasar keluarga di rumah? Mengapa pengabdian yang tulus dan mulia justru diuji dengan kesulitan yang seharusnya tidak perlu terjadi?
Guru bukanlah malaikat yang tidak butuh makan, bukan pula patung yang tidak merasakan haus dan lelah. Guru adalah manusia biasa yang memiliki keluarga, anak, tagihan, dan kebutuhan hidup yang sama dengan profesi lain. Ketika seorang guru harus berpikir dua kali sebelum mengisi bensin kendaraannya karena belum ada dana yang masuk, energi yang seharusnya tertuju untuk menyiapkan materi pelajaran justru terbagi memikirkan cara bertahan hidup. Bagaimana kita bisa mengharapkan guru memberikan yang terbaik bagi anak bangsa, jika pikirannya terbebani oleh kekhawatiran kebutuhan dasar yang belum terpenuhi?
Pengabdian memang luhur, namun pengabdian tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran atas ketidakpedulian terhadap kesejahteraan pendidik. Kita sering menuntut guru agar profesional, disiplin, berprestasi, dan terus berkembang. Standar administrasi makin kompleks, kurikulum terus berubah, tuntutan evaluasi makin ketat. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit. Namun di saat yang sama, kesejahteraan pendidik terutama guru Non-ASN seolah masih berada di urutan terakhir. Tunjangan yang tertunda, penghasilan yang jauh dari layak, serta ketidakpastian masa depan menjadi bayang-bayang yang tak kunjung sirna.

