“Kami sedang meminta kesediaan pemilik lahan, salah satunya Pak Budi Acik, agar embung di kawasan Menjelang 1 bisa digunakan untuk membantu menambah pasokan air baku kami,” kata Harpandi.

Sebenarnya, PDAM telah menemukan potensi air baru di bawah lokasi waterpump kawasan Bukit Menumbing.

“Potensinya ada, sayangnya belum bisa kami manfaatkan secara optimal karena membutuhkan biaya operasional penarikan air yang sangat besar,” imbuhnya.

Dampak krisis air ini bahkan telah memukul unit usaha internal perusahaan. Produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dan pengisian depot air milik PDAM di kawasan Menumbing terpaksa dihentikan total.

“Debit air di Menumbing merosot drastis. Dari yang biasanya mencapai 0,5 liter per detik, kini turun hingga mendekati nol liter per detik. Pelayanan dasar untuk domestik warga terpaksa kami prioritaskan terlebih dahulu,” tutur Harpandi.

Berbeda dengan wilayah pusat Mentok yang kritis, pasokan air di wilayah cabang kecamatan dilaporkan masih relatif aman hingga satu bulan ke depan. Cabang Terabik diprediksi mampu menopang 1.200 pelanggan, sementara wilayah Jebus, Parittiga, dan Tempilang masih aman untuk menyuplai rata-rata 300 sambungan rumah di tiap wilayah.

Kendati demikian, Harpandi meminta masyarakat di pusat kota tidak meremehkan situasi ini dan segera mengubah pola konsumsi air harian.

“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh pelanggan di pusat Mentok untuk menggunakan air seperlunya saja. Mulailah menampung cadangan air dari sekarang dan prioritaskan hanya untuk kebutuhan pokok seperti memasak, minum, dan sanitasi darurat,” pungkasnya.