Setelah letak mihrab imam ditemukan, hamba langsung menyapa Rasulullah SAW dan dua khalifah, lalu keluar dari Masjid Nabi untuk kembali ke penginapan. Hamba baru sadar bahwa selama enam hari di Kota Nabi belum pernah sekalipun shalat di shaf pertama Masjid Nabi. Sungguh sangat disayangkan.

Menjelang Zuhur, hamba dan Cinta kembali ke Masjid Nabi dengan rencana bertemu di sebelah selatan masjid untuk beristirahat dan menikmati suasana Kota Nabi setelah Zuhur. Hamba menuju Bab Jibril untuk mengantre di balik tirai. Setelah berhasil masuk Bab Jibril dan shalat Zuhur di sisi timur makam, hamba bergegas ke Raudhah untuk shalat sunnah. Hamba berhasil masuk Raudhah dan shalat di depan mimbar Rasulullah SAW.

Namun, entah sebab apa, saat itu hamba terpaksa batal wudhu dan harus keluar dari Raudhah. Shaf di Raudhah sangat rapat sehingga hamba bingung harus keluar lewat mana, sebab takut melangkahi jamaah yang sedang shalat. Hamba melipir ke samping rumah Rasulullah SAW.

Di batas rumah berbentuk teras dengan pagar teralis di sekeliling bangunan makam Rasulullah SAW—tempat yang biasanya dijaga petugas masjid hamba melihat pintu besi teralis kecil. Hamba langsung meminta izin keluar lewat dalam teras dengan alasan hendak berwudhu karena batal, dan petugas memperbolehkan. Alhamdulillah. Hamba seperti mendapat kejutan dan menjadi perhatian jamaah lain karena bisa melipir di samping rumah Rasulullah SAW.

Setelah masuk ke area teras, hamba diarahkan ke arah timur, bukan ke arah barat tempat lubang lingkaran makam Rasulullah. Hamba melipir dengan hati-hati sambil membungkukkan badan sesuai adab Indonesia, yang makin membuat jamaah merasa heran. Di sudut sisi timur yang berbatasan dengan Raudhah, terdapat pintu teralis besi yang dijaga petugas masjid.

Hamba meminta izin keluar kepada petugas. Namun sebelum sempat berkata-kata, hamba tercengang di depan pintu teralis. Banyak jamaah, terutama dari Afrika, mengacung-acungkan uang kepada petugas agar diizinkan lewat melalui jalan pintas untuk masuk ke Raudhah.