Ia turut berharap perangkat daerah terkait dapat memberikan dukungan, termasuk melalui penyediaan bibit tanaman untuk membantu keberlanjutan kegiatan pertanian yang dijalankan kelompok.

Dessy juga menilai peran perempuan dalam kegiatan kemasyarakatan sangat penting. Keterlibatan mereka melalui KWT, PKK, Posyandu, PAUD, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga majelis taklim dinilai memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Sementara itu, KWT Pandan Sari menunjukkan hasil nyata dari kegiatan pertanian yang mereka jalankan. Kelompok tersebut mampu menghasilkan sekitar 50 kilogram sawi putih keriting setiap bulan.

Hasil panen dimanfaatkan dengan dua cara, yakni dibagikan kepada masyarakat sekitar dan dijual. Pendapatan dari penjualan kemudian dimasukkan ke kas kelompok untuk membeli bibit baru sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlanjut.

Selain sawi, sejumlah kelompok wanita tani di Pangkalpinang juga mengembangkan berbagai jenis sayuran, seperti selada dan seledri. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan perkotaan agar lebih produktif.

Saat ini, Pangkalpinang memiliki 23 KWT yang diharapkan terus berkembang hingga dapat menjangkau seluruh 42 kelurahan. Pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap kelompok yang belum aktif untuk mengetahui kendala yang dihadapi dan menentukan langkah pembinaan yang diperlukan.

Ke depan, hasil pertanian dari kelompok wanita tani juga berpotensi mendukung kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, produksi yang tersedia saat ini masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Melalui pengembangan pertanian perkotaan, Dessy berharap semakin banyak perempuan dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas lingkungan, serta menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Pangkalpinang.