Saat sedang berbincang ringan dengan ibunya, Doni menerima pesan singkat dari istrinya yang mengajak pergi keluar. Alasan sang istri saat itu adalah ingin berbicara secara pribadi dari hati ke hati mengenai masa lalunya yang suram.

“Saya sempat jawab, di sini saja bicaranya di rumah ibu, kebetulan tidak ada orang lain juga. Tapi istri saya menolak. Dia tetap bersikeras mengajak berbicara di luar rumah dengan alasan cukup kami berdua saja yang tahu,” kata Doni.

Menuruti permintaan tersebut, Doni pun mengiyakan. Tidak lama berselang, sang istri kembali mengirimkan pesan memberitahu bahwa dirinya sudah siap dan meminta untuk dijemput. Doni segera menjemput Suci di rumah mertuanya, lalu mereka berboncengan menuju ke arah pantai.

Di tengah perjalanan, Suci tiba-tiba menanyakan keberadaan surat emas kawin pernikahan mereka. Doni menjawab tidak tahu pasti dan memperkirakan surat tersebut disimpan oleh ibu mertuanya. Saat ditanya alasannya, Suci mengaku ingin menukar motif cincin emasnya karena merasa kurang suka dengan model yang ada.

Setibanya di sebuah toko emas di daerah Mentok, mereka berhenti. Doni memilih menunggu di atas sepeda motor sementara istrinya masuk ke dalam toko.

“Saya tidak tahu saat itu apakah emasnya ditukar atau dijual, karena saya tidak terlalu memperhatikan. Lagipula memang ada dua cincin emas di jari istri saya,” jelas Doni.

Setelah urusan di toko emas tersebut selesai, keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Batu Rakit sekitar pukul 11.00 Wib. Di lokasi inilah, Suci secara mengejutkan membeberkan rahasia masa lalunya kepada Doni.

“Setibanya di Pantai Batu Rakit, istri saya bilang kalau dia sudah ada pria lain dan tidak bisa melupakannya sampai kapan pun,” kata Doni yang mengaku sangat terkejut mendengar pengakuan tersebut.

Mendengar hal itu, Doni langsung mengajak istrinya pulang dan meminta agar masalah tersebut dijelaskan secara langsung kepada orang tuanya. Namun, Suci menolak keras untuk pulang tanpa memberikan alasan yang jelas. Selama berada di atas sepeda motor, Doni juga melihat gelagat aneh karena istrinya terus-menerus sibuk bertukar pesan di ponselnya secara tertutup dengan alasan privasi.

Dalam kondisi bingung, Doni sempat mencoba menghubungi keluarganya sendiri namun belum mendapatkan respons. Karena tidak memiliki nomor kontak mertuanya, Doni akhirnya memutuskan pulang sendirian ke rumah orang tua Suci untuk melaporkan situasi tersebut dan mengabarkan bahwa Suci tertinggal di Pantai Batu Rakit.

Mendapat informasi itu, ibu mertua Doni segera bergegas melakukan penjemputan ke pantai. Namun, setibanya di sana, keberadaan Suci sudah tidak lagi ditemukan, sehingga sang ibu terpaksa kembali ke rumah dengan tangan kosong.

Doni kemudian pulang ke rumah keluarganya untuk merembuk kejadian tersebut bersama keluarga besar. Sekitar pukul 15.00 Wib, pihak keluarga pria kembali memastikan status keberadaan Suci kepada sang ayah mertua. Mendengar jawaban dari ayah mertua bahwa kejadian ini sudah dilaporkan ke polisi, pihak keluarga Doni sempat merasa tenang.

Malam harinya, Doni kembali mendatangi rumah mertuanya untuk menanyakan perkembangan informasi. Berdasarkan keterangan ibu mertuanya, Suci diduga berada di daerah Pasir Padi, Pangkalpinang.

Ayah mertua bersama rekannya pun telah bertolak ke Pangkalpinang untuk melakukan penjemputan.

Namun, titik terang belum juga ditemukan. Melalui pesan singkat pada keesokan harinya, Rabu (30/9/2026), pihak mertua mengabarkan bahwa Suci sudah tidak berada di Pangkalpinang dan gagal ditemukan.

Merasa ada yang janggal, keluarga Doni kemudian melakukan penyelidikan mandiri terkait laporan kepolisian yang sebelumnya diklaim telah dibuat oleh pihak mertua.

“Setelah kami selidiki, ternyata belum dilaporkan ke polisi secara resmi. Alhasil kami berinisiatif untuk melaporkan sendiri kejadian ini ke Polres Bangka Barat, namun sempat ditahan oleh ayah mertua dengan alasan malu,” ungkap Doni.

Keluarga Doni akhirnya memilih menunggu hingga seminggu kemudian, yakni sekitar tanggal 7 Oktober 2026. Karena tetap tidak ada kabar dan pihak mertua mengaku tidak memiliki nomor ponsel Suci yang bisa dihubungi, Doni kembali bergegas ingin melapor ke Polres Bangka Barat. Upaya ini lagi-lagi ditunda setelah ayah mertuanya meminta tempo waktu tiga hari lagi.

Setelah waktu yang diminta berlalu hingga empat hari tanpa ada kepastian, pihak mertua akhirnya mengaku pasrah dan menyatakan tidak mampu lagi untuk membawa Suci kembali pulang. Meski ibu mertuanya terus meyakinkan bahwa Suci akan pulang, Doni yang semula berusaha berpikir positif akhirnya kehilangan kesabaran karena tidak adanya kejelasan.

“Karena tetap tidak ada kabar, saya pun akhirnya mendatangi Polres Bangka Barat untuk membuat laporan resmi atas hilangnya istri saya,” tegas Doni.

Melalui laporan resmi ini, Doni berharap sang istri dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Di sisi lain, ia juga menegaskan masih menunggu itikad baik dari pihak keluarga Suci mengenai kelanjutan hubungan pernikahan mereka.

Sampai berita ini diturunkan, Polres Bangka Barat tengah menindaklanjuti laporan resmi tersebut dan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap keberadaan Suci.