Malam Sunyi untuk sang Az‑Zahra
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Malam di Madinah merayap begitu pekat. Sunyi menyergap ketika gerendel pintu rumah Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah bergeser perlahan, memecah keheningan yang mencekam. Di atas dipan sederhana, tubuh mulia yang selama enam bulan meranggas oleh kerinduan mendalam kepada sang ayahanda kini telah terbujur kaku. Sayyidah Fatimah az‑Zahra ra, putri kesayangan Rasulullah ﷺ, telah berpulang.
Malam itu, tak ada riuh pelayat yang memadati jalanan. Tak ada iring‑iringan besar penduduk Madinah yang mengantar kepergiannya. Yang ada hanyalah gulita yang pekat, desau angin gurun yang lirih, dan segelintir sahabat setia—seperti Abu Dzar al‑Ghifari dan Fadhil bin Abbas—yang melangkah dengan jinjit kaki penuh takzim. Keheningan ini bukan tanpa alasan. Semua ini terjadi demi menepati sebuah wasiat suci yang lahir dari kedalaman jiwa sang putri.
Wasiat di Balik Tabir Malam
Bagi Fatimah, rasa malu dan kehormatan diri (iffah) adalah mahkota tertinggi yang tidak boleh tanggal, bahkan oleh kematian sekali pun. Jauh sebelum ajalnya tiba, hatinya kerap dirundung gundah setiap kali memikirkan tradisi pemakaman kala itu. Saat itu, jenazah perempuan hanya diletakkan di atas papan terbuka dan dibalut kain tipis yang masih menampakkan lekuk tubuh di mata publik. Bagi sang putri, itu adalah kegelisahan besar yang mengusik jiwanya.
Mendengar keresahan itu, Asma binti Umais menawarkan sebuah ide: sebuah keranda tertutup dari pelepah kurma yang melengkung. Inilah keranda tertutup pertama dalam sejarah Islam, sebuah inovasi yang lahir dari keagungan rasa malu seorang wanita. Demi menyempurnakan kesucian itu, Fatimah meminta sang suami untuk menguburkannya di kegelapan malam, jauh dari pandangan mata lelaki yang bukan mahramnya.
Namun, pemakaman malam itu bukan sekadar tentang sehelai kain penutup. Di balik tirai kegelapan, ada riak emosional yang masih tersisa pasca‑wafatnya Rasulullah ﷺ. Dinamika politik dan perbedaan pandangan mengenai harta peninggalan Fadak sempat menggoreskan luka dan jarak antara Fatimah dengan beberapa sahabat senior. Mengasingkan diri dalam kesunyian hingga akhir hayat, pemakaman di kegelapan malam ini menjadi pilihan sadar untuk menjaga privasi, sekaligus menjadi penanda abadi dari sebuah keteguhan prinsip yang tak tergoyahkan.
Dialog Sunyi di Liang Lahat
Ketika jasad suci yang wangi itu hendak diturunkan ke dalam liang lahat, keheningan malam pecah oleh getar suara Abu Dzar al‑Ghifari ra. Dengan dada yang sesak oleh kesedihan, ia menghadap lubang tanah yang menganga dan berseru dengan nada bergetar:

