Negara “UTOPIA”
Elok bukan? Istilah-istilah itu menunjukan betapa sejak nun jauh dulu negara kita sudah menjadi pusat perhatian orang-orang, hingga zaman saat inipun begitu. Bedanya dulu kita belum bersatu sebagai satu negara saat ini sudah yaitu Indonesia.
Ajaran kedua maha guru itu sampai saat ini masih terniang di kepala Saya dan saat ini ketika mengajar, ajaran itu seolah latah keluar dari mulut ini. Mengagung-agungkan keIndonsiaan yang maha hebat dan luarbiasa dari seluruh aspek apapun.
Itu memang benar dan tidak salah, tapi jika kita melihat lebih dalam dan setelah hampir delapanpuluh satu (81) Indonesia merdeka keagungan alam yang kita miliki itu rasanya belum bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Masyarakat adil dan makmur, mecerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi segenap bangsa seperti masih jauh panggang dari api. Mari kita lihat data, melansir kompas.com pada Tahun 2026 ini Bank Dunia menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 sebagai negara termiskin di dunia dengan 64,2 persen masyarakat indonesia masih di bawah garis kemiskinan.
Kendati begitu, Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki ukuran yang berbeda dengan Bank Dunia soal kemiskinan di Indonesai. BPS mengungkapkan, masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan adalah sebesar 8,07 persen atau bekisar 22,93 juta jiwa. Menurut kita sebagai masyarakat Indonesia mana yang kita yakini, jika melihat kondisi ekonomi masyarakat disekitar kita saat ini?.
Angka korupsi di Indonesia berdasarkan Indek Persepsi Korupsi (IPK) yang dikonversi dengan angka 0 – 100 pada tahun 2025 menunjukan angka 34. Mirisnya angka itu turun 3 poin dari tahun 2024 yang berada di angka 37 dan jika dilihat secara global kita menenempati peringkat ke 109 dari 182 negara yang disurvai.
Sungguh miris, bila negara yang mencita-citakan masyarakat adil dan makmur tapi korupsi masih terus menjamur bahkan angkanya semakin hari semakin mengerikan. Bagaimana dengan pendidikan kita? Melansir kompas.com berdasarkan laporan OECD Education at a Glance 2025 Indonesia menempati peringkat ke-44 dari 45 negara yang disurvai terkait negara paling berpendidikan di dunia. Artinya apa? Artinya masyarakat Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi (usia 25 – 64 tahun) hanya 13 persen.
Melindungi segenap bangsa? Sudahkan negara hadir di Kalimantan, di Sumatra, di Papua saat hutan mereka membara? Atau ketika masyarakat kehilangan hak atas adatnya? atau hukum yang masih terkesan tajam kebawah dan tumpul ke atas atau bla..bla..dan bla..
Sesungguhnya Indonesia dengan segala potensi dan kekayaanya harusnya mampu untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang sebenar-benarnya dan mengarahkan Indonesia menuju negara utopia bukan suatu hal yang mustahil.

