Negara “UTOPIA”
Oleh: Agustian Deny Ardiansyah — Pengajar di SMPN 2 Tukak Sadai, Bangka Selatan
Saya masih ingat ketika guru geografi dengan semangat berapi-api mengajarkan materi tentang ke-indonesiaan.
Beliau menulis jelas di papan tulis dengan kapurnya, Indonesia negara beribu pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Lautnya tak kalah gagah, membentang sejauh 3,25 juta km2, sekali lagi saya katakan “3,25 juta km2”. Isinya?, jangan ditanya.
Setelah itu beliau melanjutkan, hutan? Hutan kita merupakan pusat paru-paru dunia. Pulau-pulau seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa masuk jajaran pulau-pulau besar dunia. Peringkatnyapun tak main-main, 2, 3, 6, 11 dan 13 jadi tak salah jika kita disebut zamrud khatulistiwa.
Indonesia juga merupakan peringkat ke-2 megabiodiversity dunia dan penghuninya tak kalah mentereng dengan Hutan Amazon di Brazil ataupun Hutan kongo di Afrika Tengah. Sebut saja Cendrawasih, Anoa, Tapir, Komodo, Badak jawa, Gajah sumatra, Orang Utan adalah sedikit banyak penghuni hutan Indonesia yang secara identik tidak memiliki kemiripan dengan wilayah lain di dunia.
Suku? Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa yang tersebar diseluruh pulau-pulau di Indonesia serta menempati urutan ke-4 dalam percaturan jumlah penduduk dunia di bawah India, China dan Amerika Serikat.
Tak berhenti disitu, beliau kembali melanjutkan pelajarannya dan menulis. Indonesia ini negara kaya-raya. Segala macam jenis tambang ada di bawah bumi dan laut kita. Emas, nikel, timah, batubara, gas alam, minyak bumi dan jenis tambang lainnya yang sangat banyak jumlahnya jika harus ditulisakan satu-persatu di papan tulis.
Intinya, negara kita adalah negara kaya-raya dengan segala potensi dan sumber daya alam yang dimilikinya. Tak berhenti disitu, Saya juga masih ingat ketika guru sejarah saya berkelakar, “negara kita ini, negara Indonesia adalah negara yang sejak dulu dicintai oleh negara-negara barat, negara penjajah itu.”
350 tahun kita dijajah hanya untuk merampas hasil bumi yang ada di negara tercinta ini. Lada, pala, cengkeh atau kayu manis diangkut dan digunakan untuk memperkaya negara penjajah itu. Sekarang, cerita itu sudah berbeda. Saat ini negara kita tercinta yang disebut dunia dengan nama Indonesia ini sudah merdeka. Sudah merdeka dari belenggu penjajahan dan menyongsong era baru yang gilang gumilang.
Mari kita kembalikan kata-kata di era dulu yang melekat erat pada masyarakat pendatang dari negeri-negeri jauh. Swarnadwipa (pulau emas), Jawadwipa (Pulau Jelai/Padi), Swarnabhumi (tanah emas), Bangkadwipa (pulau timah).

