Pencetus IKAN sekaligus narasumber kegiatan, Ervawi, mengungkapkan bahwa ide awal hadirnya IKAN berangkat dari hasil survei nasional terkait tingginya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Hal itulah yang menggerakkannya untuk merumuskan formulasi kurikulum guna mencegah penyebaran narkoba yang kian masif. Lewat kegigihannya, IKAN kini terwujud bahkan diangkat menjadi program nasional. Meski lahir di Bangka Belitung, peluncuran resminya digelar di Pulau Jawa.

Sementara itu, Kepala BNNK Bangka Selatan, Hendra Amoer, menjelaskan bahwa latar belakang kegiatan ini didasari keprihatinan atas tingginya angka anak usia sekolah yang terpapar hingga menjadi korban narkoba. Menurutnya, peredaran narkoba harus dicegah sedini mungkin, salah satunya melalui jalur pendidikan. Oleh karena itu, BNNK Bangka Selatan berkolaborasi dengan Dindikbud Bangka Selatan mengagendakan kegiatan tersebut—langkah yang juga diamini penuh oleh Kepala Dindikbud Bangka Selatan.

Pada sesi berikutnya, tim dari SMAN 4 Pangkalpinang hadir membagikan ilmu dan pengalaman mereka sebagai pilot project penerapan IKAN. Mereka memaparkan bahwa IKAN dapat diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran, bergantung pada kejelian guru menyisipkan pesan pencegahan dalam materi pembelajaran. Mereka berharap pengalaman ini dapat diserap maksimal oleh seluruh peserta. Terlebih, program IKAN lahir di Bangka Belitung, sehingga sangat disayangkan jika lembaga pendidikan di daerah sendiri justru tidak mengenalnya.

Seluruh peserta workshop mengikuti kegiatan dengan antusias. Semangat itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber hingga penghujung acara. Para peserta pun menyambut gembira inisiatif ini karena mendapatkan wawasan dan wawasan baru secara cuma-cuma.