“Harapannya bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk Eropa dan Amerika,” kata Markus.

Selain komoditas timah, pemkab memproyeksikan pelabuhan ini sebagai gerbang keluar komoditas unggulan lain seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), sehingga ketergantungan arus barang tidak bertumpu pada satu sektor saja.

Pelindo Lakukan Kajian Kelayakan

Merespons permintaan tersebut, Executive Director 2 Pelindo Regional 2, Budi Prasetyo, menyatakan pihaknya tengah mengevaluasi komprehensif kelayakan Pelabuhan Tanjung Ular. Kajian tersebut mencakup aspek fisik dermaga, teknis operasional, legalitas perizinan, potensi bisnis, hingga dampak lingkungan.

Berdasarkan data peninjauan awal, Pelabuhan Tanjung Ular memiliki area dermaga dengan kedalaman bervariasi antara 8 hingga 9 meter, dengan panjang dermaga sekitar 80 meter dan kedalaman minimum 7 meter. Di sisi lain, kapal pengangkut timah yang saat ini beroperasi masih berukuran relatif kecil.

Kondisi fasilitas yang terbatas tersebut dinilai kurang efisien untuk mendukung pengiriman jarak jauh yang biasanya membutuhkan kapal kargo dengan kapasitas angkut yang jauh lebih besar.

Pihak Pelindo menegaskan bahwa keputusan terkait bentuk kerja sama dan pengembangan infrastruktur pelabuhan baru akan ditetapkan setelah seluruh hasil kajian kelayakan teknis dan bisnis selesai dirampungkan.