Setelah para korban berhasil bersandar dan disambut oleh Tim SAR Gabungan beserta keluarga, barulah terungkap kronologi penyebab keterlambatan mereka. Para korban menuturkan bahwa pada malam hari saat berada di area fishing ground, kapal mereka sempat dihantam badai yang mengakibatkan kerusakan sehingga mesin kapal mati.

Di tengah situasi darurat tersebut, seluruh handphone milik korban dalam kondisi kehabisan baterai. Meski mereka berjuang dan akhirnya berhasil menyalakan mesin kembali, cuaca di perairan saat itu tertutup kabut tebal.

Tanpa adanya handphone yang berfungsi sebagai satu-satunya petunjuk arah (GPS) dan jarak pandang yang terbatas, mereka memutuskan untuk tidak memaksakan diri berlayar pulang dan memilih menunggu di tengah laut hingga cuaca kembali cerah.

Menanggapi insiden ini, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, S.E., menyampaikan rasa syukur sekaligus memberikan imbauan keselamatan kepada masyarakat pesisir.

“Alhamdulillah, ketiga nelayan kita berhasil kembali ke daratan dengan selamat. Keputusan mereka untuk menunggu cuaca cerah saat kehilangan arah navigasi adalah langkah yang sangat tepat untuk menghindari risiko yang lebih fatal. Kami dari Basarnas terus mengimbau kepada seluruh nelayan agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut, memastikan ketersediaan alat keselamatan seperti life jacket, serta membawa alat komunikasi dan navigasi cadangan, seperti powerbank atau kompas manual,” tegas Mikel.

Setelah memastikan kondisi ketiga korban dalam keadaan sehat, Tim SAR Gabungan langsung menyerahkan mereka kepada pihak keluarga. Operasi SAR kemudian resmi dinyatakan ditutup.