Tukang Sadap
“Berapa harganya sekarang?”
Di sebuah tempat penjualan hasil perkebunan, Mbah Halim memberanikan bertanya kepada pengepul.
“Sembilan ribu, Mbah”
Mbah Halim sangat terkejut mendengarnya. Padahal beberapa minggu yang lalu harganya masih cukup tinggi. Sebelum musim hujan tiba, harga komoditi andalan masyarakat itu sampai belasan ribu. Keheranan Mbah Halim tersebut sangat beralasan, karena rumusnya jika musim hujan tiba pasti harga komoditi yang memiliki bau khas itu akan mahal, karena pengepul kesulitan mendapatkan barang.
“Mengapa bisa turun drastis? Bukankah sulit mendapatkan barang?”
Mbah Halim memberondong sang pengepul dengan pertanyan menohok.
“Ini karena ada petani di sini yang berlaku curang Mbah!”
“Curang?……”
Mbah Halim bertambah bingung. Dalam hati ia bertanya, siapa yang berani berlaku curang itu dan kecurangan apa yang dilakukannya.
“Kemarin ada yang ketahuan mencampurkan batu kerikil ke dalam adonan”
Sang pengepul memberi penjelasan, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran mbah Halim.
“Batu kerikil? Apa tujuannya?”
Kembali Mbah Halim bertanya secara beruntun. Ia heran batu kerikil yang dimasukkan dalam cetakan hasil komoditi.
“Biar memberatkan timbangan, Mbah”
“Astaga”
Dalam kekagetannya, Mbah Halim baru mengerti mengapa itu dilakukan.
“Efeknya, bos besar tidak percaya lagi dengan hasil dari sini”
“Kalau pun mau dijual, harganya seperti yang saya sebutkan tadi”
Ucapan terakhir sang pengepul seperti bogem mentah yang menghantam dada mbah Mijam secara telak. Mbah Halim tidak bisa berkata apa-apa lagi. Walau itu bukan kesalahannya, tetapi akibat dari perbuatan itu membuat yang lain juga dirugikan.
“Kalau mau harganya sedikit lebih tinggi, mbah bisa membawa barang ini langsung ke bos besar di kota”
‘Tapi………..”
Sang pengepul menghentikan ucapannya.
“Tapi…..kenapa?”
Mbah Halim tidak sabar lagi menantikan lanjutan dari ucapan sang pengepul.
“Mbah harus mengeluarkan biaya lebih banyak lagi untuk pergi ke kota”
Kembali mbah Halim terdiam. Ia mencerna ucapan sang pengepul barusan dan menghitung biaya yang harus dikeluarkan. Untung ruginya dipertimbangkan seakurat mungkin.
Dalam kemasygulannya, mbah Halim menemuli istrinya yang sedari tadi menunggu barang hasil kebun mereka.
“Bagaimana Bu?”
Mbah Halim meminta pendapat istrinya, setelah ia menceritakan fenomena terbaru tentang harga komoditi mereka. Ceritanya sama persis dengan yang disampaikan oleh sang pengepul.
“Ibu bingung juga pak! di satu sisi kita memang butuh uang, tapi di sisi lain kita akan rugi banyak”
Kedua suami istri itu terdiam. Mereka berpikir untuk menentukan nasib mereka. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari sang pengepul.
“Mbah, jadi dijual tidak karetnya?”
*****
Cuaca pagi sangat cerah. Mbah Halim dan istrinya masih duduk santai di teras gubuk mereka. Tidak ada keinginan untuk lekas bekerja di kebun karet mereka. Mereka masih menikmati ubi goreng dan secangkir air putih hangat. Menu mereka memang sangat sederhana pagi itu. Persediaan dapur mereka kembali menipis, tetapi berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, kali ini mereka masih rileks menghadapi situasi.
Sebenarnya jika ditanya, dalam hati mereka yang paling dalam tentu jawaban mereka tidak ingin berada dalam situasi seperti itu. Jika mereka boleh berbicara, mereka akan mengatakan bahwa sedang mengalami kegalauan kelas berat. Mereka bimbang apakah harus tetap mempertahankan pekerjaan mereka sebagai tukang sadap karet atau mencari pekerjaan lain. Tentu semua ada konsekuensinya, mempertahankan menjadi tukang sadap memang pekerjaan mereka dari semenjak kecil dan mereka memang ahlinya, tetapi mengingat harga karet yang turun drastis tentu membuat mereka berpikir kembali.
Jika mereka memilih pekerjaan lain, maka ada juga efeknya. Pertama mereka tentu harus belajar dari awal dan yang kedua, ini paling mengkhawatirkan yaitu mereka akan kehilangan gelar sebagai tukang sadap yang handal.
*****
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari penulis. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]

