Kisah Inspiratif H. Ulung: Dulu Meminta Bekas Gigitan Tupai pun Tak Diberi, Kini Punya 1.000 Pohon Durian
Kisah Inspiratif H. Ulung: Dulu Meminta Bekas Gigitan Tupai pun Tak Diberi, Kini Punya 1.000 Pohon Durian
Penulis: Sukrat Ho — Putra Sulung H. Ulung
Durian adalah buah musiman yang rata-rata hanya berbuah satu kali dalam setahun. Bahkan, terkadang pohon durian tidak berbuah sama sekali jika faktor cuaca tidak mendukung. Proses pembungaan durian kampung memerlukan musim kemarau yang cukup panjang, sekitar 2 hingga 3 minggu.
Namun, munculnya bunga tidak serta-merta menjamin masa panen, karena ada proses seleksi alam yang ketat dari bunga hingga menjadi buah. Jika terjadi kerontokan massal, petani terancam gagal panen total.
Salah satu petani durian yang sukses melewati tantangan ini adalah H. Ulung, seorang petani dari Desa Pangek, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat. Senyumnya selalu merekah setiap kali musim panen tiba. Baginya, momen ini ibarat menunggu uang jatuh dari langit. Dengan kepemilikan lebih dari 1.000 pohon durian, hasil panen yang melimpah jika dikalikan dengan harga per musimnya, insyaallah bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil baru.
Kesuksesan yang dinikmati H. Ulung saat ini tidak datang secara instan, bukan pula karena warisan orang tua, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang melelahkan. Dulu, H. Ulung hanyalah seorang pemuda yang tidak memiliki apa-apa bahkan sebatang pohon durian pun ia tak punya.
Ketika musim durian tiba, ia hanya bisa menelan ludah menahan keinginan. Jangankan membeli, bahkan untuk meminta durian bekas gigitan tupai pun ia tidak diberi. Jangankan untuk membeli buah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja saat itu sudah sangat sulit.
Berawal dari pengalaman pahit itulah perjuangannya dimulai. Ia termotivasi oleh petuah sederhana dari pamannya, Pakcik Sarimin bin Letek (Alm.) atau Atok Min, yang berkata:
“Men nek maken durin, melak.” (Kalau mau makan durian, tanam sendiri).
Kata-kata itu membakar semangat H. Ulung muda untuk menanam pohon durian sebanyak-banyaknya. Akhirnya, di atas lahan perbukitan seluas 5 hektar, ia menanami seluruh area tersebut dengan durian kampung. Saat itu, ia menanam bermacam-macam jenis durian tanpa terlalu memikirkan kualitas buahnya; yang terpenting baginya adalah terus menanam.
Kini, di antara ribuan pohon milik H. Ulung, terdapat beberapa varietas durian kampung yang menjadi favorit para pembeli, antara lain:
Si Jantung Kebun: Buahnya berukuran besar dan panjang, bahkan panjangnya bisa mencapai 60 cm.
Si Merah: Memiliki daging buah berwarna kemerahan yang bertekstur sangat lembut.
Si Kucing Tidur: Bentuk buahnya unik, selalu menyerupai kucing yang sedang tertidur, dengan isi berwarna kuning.
Si Laim: Buahnya kecil-kecil, tetapi memiliki isi berwarna kuning pekat dengan rasa yang legit (lemak manis).
Si Hijau Daun: Kulit buahnya selalu berwarna hijau segar, memiliki daging buah berwarna kuning yang pulen, lumer di mulut, dengan sedikit sensasi rasa pahit yang khas.
Berkat keunikan rasa dan varietasnya, kebun durian kampung milik H. Ulung telah dikunjungi oleh berbagai komunitas penikmat durian ternama, seperti Durian Traveler, Kang Duren Channel, Sahabat Hortikultura Indonesia, Durian Avengers, serta para pencinta durian lokal lainnya.
Atas izin Allah, H. Ulung kini dapat menikmati hasil dari jerih payahnya yang luar biasa. Ia selalu berpesan kepada anak-anaknya dan kita semua agar pengalaman pahit masa lalunya tidak terulang kembali. Beliau mengingatkan bahwa tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan atau lewat bersantai-santai.
Selain itu, beliau juga berpesan agar kita jangan pernah pelit. Sebab, dengan berbagi kebahagiaan kepada orang lain, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari apa yang telah kita berikan.
