Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Nubuat Kerapuhan di Akhir Zaman

Suatu hari di abad ketujuh, Rasulullah SAW duduk di hadapan para sahabatnya dan melemparkan sebuah nubuat yang menggetarkan. Beliau menggambarkan suatu masa di mana umat Islam akan dikerumuni oleh bangsa-bangsa lain, layaknya kawanan yang kelaparan berebut makanan di atas meja hidangan. Menanggapi hal itu, seorang sahabat bertanya dengan penuh keheranan, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan jumlahmu pada hari itu sangat banyak. Namun, kamu sekalian pada hari itu bagaikan buih di atas ombak.”

Hakikat Wahn dan Kanker Spiritual

Buih. Ia ada, tampak memenuhi permukaan lautan, tetapi kosong dan rapuh. Ia tidak memiliki bobot, tidak punya arah, dan pasrah ke mana pun arus ombak membawanya. Mengapa umat yang besar ini bisa kehilangan taring dan kehormatannya? Rasulullah SAW merangkum semua kerapuhan sistemik itu dalam satu kata yang menusuk jantung spiritual kita: Wahn. Ketika ditanya apa itu wahn, beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.”
Wahn bukanlah penyakit fisik yang menyerang raga, melainkan kanker spiritual yang menggerogoti iman dari dalam. Ia bekerja dengan sangat halus. Ia dimulai ketika dunia tidak lagi diletakkan di genggaman tangan untuk dikendalikan, melainkan disusupkan ke dalam ruang suci di dalam hati untuk dipuja.

Baca Juga  Desa Tebing: Wajah Baru Menggali Potensi Agrowisata Sawah

Dua Sisi Mata Uang: Ilusi Dunia dan Ketakutan Akhirat

Saat kemewahan, jabatan, popularitas, dan kenyamanan duniawi menjadi muara dari segala ambisi, saat itulah ketakutan akan kematian lahir. Kematian tidak lagi dilihat sebagai gerbang indah untuk menjumpai Sang Kekasih, melainkan dianggap sebagai monster menakutkan yang akan merenggut paksa semua mainan duniawi yang telah susah payah dikumpulkan. Manusia pun terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tiada akhir, mengejar bayang-bayang semu yang tak pernah memuaskan dahaga jiwa.

Ketika Penyakit Menjangkiti Jubah Ulama

Namun, daya rusak penyakit wahn ini akan mencapai level yang paling mematikan ketika ia tidak lagi sekadar menjangkiti orang awam, melainkan merayap masuk ke dalam jubah dan surban para ulama.
Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka adalah kompas moral, benteng pertahanan umat, dan pelita di tengah kegelapan syubhat. Ketika seorang ulama terjangkit wahn, yang runtuh bukan hanya dirinya sendiri, melainkan seluruh umat yang bersandar di pundaknya.

Baca Juga  Polisi Adalah Penegak Hukum, Bukan Politisi

Saat dunia sudah menjadi orientasi hidup seorang pemegang ilmu, maka fatwa-fatwa agama tidak lagi lahir dari ketulusan khasyah (rasa takut) kepada Allah, melainkan digadaikan demi menyenangkan penguasa, mengejar pundi-pundi materi, atau mempertahankan popularitas di atas panggung penonton. Ulama yang terserang wahn akan menjadi bisu di hadapan kebatilan, menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.

Ironi Kekuasaan: Pemimpin yang Menjual Kedaulatan