Wahn Penyakit Dunia: Perusak Menuju Akhirat
Sama hancurnya sebuah bangsa jika penyakit wahn ini hinggap pada dada para pemimpin dan penguasa. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berat untuk menegakkan keadilan, berubah menjadi alat pemuas keserakahan. Ketika seorang pemimpin telah mencintai singgasana dunia secara buta, ia akan dihinggapi ketakutan luar biasa akan kehilangan kekuasaan tersebut.
Demi mempertahankan kursinya, pemimpin yang terjangkit wahn akan menutup mata dari penderitaan rakyatnya. Mereka mudah disuap, melahirkan kebijakan yang menindas, dan menggadaikan aset serta kedaulatan bangsa kepada pihak asing demi keuntungan pribadi dan golongannya. Ketakutan mereka akan kehilangan kemewahan dunia membuat mereka menjadi penakut di hadapan penindas, namun sangat kejam terhadap rakyat sendiri.
Runtuhnya Pilar Keadilan di Tangan Penegak Hukum
Kerusakan ini menjadi paripurna ketika virus wahn menginfeksi jubah para penegak hukum—para hakim dan jaksa. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa dua dari tiga golongan hakim berada di neraka. Ketika ketukan palu hakim dan tuntutan jaksa dikendalikan oleh syahwat keduniawian, maka ruang sidang menjelma menjadi pasar transaksi di mana keadilan diperjualbelikan kepada penawar tertinggi.
Jaksa dan hakim yang terjangkit wahn akan mengidap ketakutan kronis: takut kehilangan jabatan, takut dimutasi ke daerah terpencil, atau takut pada ancaman fisik dari para penguasa hitam. Demi mengamankan pundi-pundi uang dan kenyamanan karier, mereka tega membalikkan fakta—memenjarakan orang yang lemah dan membebaskan para perampok uang negara. Di tangan penegak hukum yang wahn, hukum hanya akan tajam ke bawah kepada rakyat miskin yang tak punya apa-apa, namun tumpul ke atas kepada pemilik modal dan penguasa yang bergelimang harta.
Runtuhnya Pilar Bangsa dan Lahirnya Rimba Kezaliman
Akibat dari perpaduan ulama, pemimpin, dan penegak hukum yang terjangkit wahn ini sangatlah fatal: suatu bangsa akan kehilangan seluruh pelindungnya. Ketika mercusuar kebenaran dari ulama telah redup, perisai perlindungan dari pemimpin telah hancur, dan benteng keadilan dari para penegak hukum telah roboh karena terseret arus materialisme, maka masyarakat awam akan hidup dalam rimba ketidakpastian. Kezaliman dianggap sebagai hal lumrah, dan kemunafikan naik kelas menjadi sebuah kecerdasan taktis. Agama dan hukum tidak lagi menjadi penuntun moral, melainkan sekadar stempel penindasan.
Membasuh Hati, Pulang Menuju Hakikat
Mengobati wahn adalah sebuah perjalanan pulang yang panjang menuju hakikat diri. Kita harus berani berkaca pada cermin jernih kehidupan Rasulullah, para sahabat, serta para generasi emas terdahulu yang melihat kekuasaan, ilmu, dan dunia tak lebih dari sebatang pohon rindang tempat berteduh sejenak dalam sebuah perjalanan panjang. Kita perlu menghidupkan kembali tradisi dzikrul maut (mengingat mati)—bukan untuk menjadi pesimis dan meninggalkan urusan dunia, melainkan untuk menakar setiap langkah, kebijakan, dan putusan hukum agar selalu bernilai akhirat.
Dunia ini terlalu kecil untuk dijadikan tujuan hidup, dan terlalu murah untuk ditangisi saat ia pergi. Sudah saatnya kita membasuh hati dari sisa-sisa buih yang rapuh, mengokohkan kembali barisan jiwa, agar kita tidak lagi sekadar menjadi angka yang banyak dalam statistik, melainkan menjadi umat yang berbobot, berwibawa, pemimpin yang adil, ulama yang jujur, penegak hukum yang lurus, dan masyarakat yang diridhai-Nya.
