Membaca Realitas Guru Indonesia melalui Lagu “Guru Oemar Bakrie”
Oleh: M. Arrayyan Rasendriya Putraniko — Mahasiswa Psikologi Islam IAIN SAS BABEL
Kondisi guru di Indonesia hari ini masih menyimpan ironi yang panjang. Di satu sisi, guru diposisikan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia, pencetak generasi yang kelak mengisi berbagai profesi strategis bangsa. Namun di sisi lain, kesejahteraan mereka masih jauh dari layak. Data terbaru memperlihatkan bahwa dalam struktur kepegawaian guru yang beragam—PNS, PPPK penuh waktu, PPPK paruh waktu, hingga guru honorer—terjadi kesenjangan kesejahteraan yang tajam dalam satu sekolah yang sama.
Bahkan ditemukan kasus guru PPPK paruh waktu di Cianjur yang hanya menerima gaji sekitar Rp300 ribu per bulan, dan di Sumedang ada yang hanya memperoleh Rp50 ribu sebelum dipotong iuran BPJS. Ironisnya, ketika Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal gaji guru yang belum juga membaik, alasan yang dikemukakan adalah kebocoran anggaran negara hingga Rp2.500 triliun per tahun, sementara anggaran pendidikan sendiri mencapai ratusan triliun rupiah dan sebagian besarnya justru dialokasikan untuk program non-kesejahteraan guru seperti Makan Bergizi Gratis. Pengamat pendidikan pun menilai persoalan ini bukan semata soal ketiadaan uang, melainkan soal kemauan politik menjadikan guru sebagai prioritas.
Dalam situasi seperti inilah, lagu “Guru Oemar Bakri” karya Iwan Fals—yang dirilis lebih dari empat dekade lalu—terasa begitu relevan untuk dibaca ulang, bukan sekadar sebagai nostalgia budaya populer, melainkan sebagai teks sosial yang merekam pengalaman psikologis guru dari generasi ke generasi. Liriknya menggambarkan sosok guru sederhana dengan “sepeda kumbang” yang melaju di “jalan berlubang”, sebuah metafora tentang perjuangan guru menembus keterbatasan sarana dan fasilitas demi menjalankan tugas mendidik. F
rasa “selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang” menyiratkan bahwa persoalan struktural guru bersifat lintas generasi, tidak kunjung tuntas meski zaman telah berganti berkali-kali. Bila dibaca dari kacamata psikologi pendidikan, gambaran ini berkorelasi dengan konsep occupational stress dan learned helplessness, yakni kondisi ketika individu terus-menerus menghadapi situasi yang tidak berubah meski telah berulang kali berupaya, sehingga lambat laun muncul kepasrahan struktural. Guru honorer dan PPPK paruh waktu hari ini mengalami pola serupa: bekerja bertahun-tahun dengan harapan perbaikan status dan kesejahteraan, namun sistem rekrutmen dan penganggaran yang berubah-ubah membuat harapan itu terus tertunda.
Bagian lirik yang paling menyayat adalah repetisi “empat puluh tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang makan hati” serta pertanyaan retoris “tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri”. Frasa “makan hati” dan “dikebiri” bukan sekadar pilihan diksi yang provokatif, melainkan representasi linguistik dari apa yang dalam psikologi disebut sebagai emotional labor tanpa emotional reward yang sepadan.

