Puisi yang Tak Puitis
Oleh: Sang Peramu Aksara (Agus Bachtiar K)
Aku pahami diriku:
’Tlah jauh terjerat,
terlalu pekat!
Ku sadari, rupa ini
tak lagi rupawan,
tapi ku syukuri…
aku tetap berjalan
di garis Mu, selayaknya manusia.
Ku mengerti, selaksa dosa
menjadi hiasan dinding dinding meruam di hidupku.
Namun, aku pastikan kendali warasku tak binasa…
Ia masih bekerja!
Ku tahu, otakku sedang mendidih!
Jantungku membara, menahan murka.
Gemertak rahangku terkatup amarah,
berbalut sumpah serapah… sampah!
Syukurku… tangan ini masih sudi menahan,
tak hendak ku kotori dengan sentuhan
pada para penista yang kebal dosa.
Tarikan napas panjang… dan dalam,
menghembuskan doa doa…
serupa mantra…atau entah apa itu namanya.
Halaman

