Merawat Tradisi Leluhur: Kekhidmatan Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan di Belitung Timur
Merawat Tradisi Leluhur: Kekhidmatan Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan di Belitung Timur
BELITUNG TIMUR, TIMELINES.ID — Malam kian pekat tatkala halaman Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit mulai dipenuhi warga. Ratusan orang datang menyaksikan rangkaian Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan yang berlangsung di kelenteng tersebut, Kamis (27/8/26) malam.
Bukan hanya warga Kelapa Kampit dan sekitar yang datang. Sejumlah masyarakat dari Tanjungpandan, Pontianak, Jakarta dan daerah lainnya turut hadir. Mereka datang untuk mengikuti sekaligus menyaksikan salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek.
Suasana semakin ramai menjelang puncak ritual. Sebelumnya, warga dan tamu menikmati hiburan yang menghadirkan artis dari luar Pulau Belitung. Namun, perhatian warga perlahan tertuju pada halaman kelenteng ketika prosesi utama mulai dipersiapkan.
Puncak Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan ditandai dengan pembakaran patung raksasa Thai Se Ja setelah pukul 23.00 WIB. Patung berukuran belasan meter tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual. Bersamaan dengan pembakaran Thai Se Ja, warga juga membakar replika kapal kertas atau kendaraan lainnya yang menjadi bagian dari simbolisasi ritual.
Sebelum prosesi tersebut, warga yang hadir mengikuti tradisi berebut berbagai sesajen berupa makanan dan buah yang sebelumnya telah didoakan. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Tionghoa di Kelapa Kampit.
Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit, Kamarudin Muten mengatakan pelaksanaan Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun.
Menurutnya, suasana pada hari pelaksanaan ritual memang tidak selalu terlihat seperti sebuah perayaan besar. Hal tersebut karena masyarakat lebih banyak mengikuti rangkaian ritual dan doa yang menjadi bagian utama kegiatan.
“Seperti biasa tiap tahun kalau Chit Nyet Pan hari H-nya karena semua ada ritual,” ungkap Kamarudin.
Kemarin, kata Kamaradin kemeriahan akan kembali terlihat saat seluruh masyarakat berkumpul dalam resepsi yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di kelenteng.

